Sering Kawin Cerai Perbesar Risiko Kanker Serviks
Tanggal: Monday, 23 April 2012
Topik: Narkoba


detikHealth, 18 April 2012

Jakarta, Gonta-ganti pasangan tidak hanya berisiko menimbulkan penyakit menular seksual seperti HIV-AIDS atau sifilis, tetapi juga meningkatkan risiko penularan kanker serviks (leher rahim). Orang yang menikah muda atau sering kawin cerai juga berada pada risiko tinggi kanker serviks.

Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) dan mudah ditularkan melalui kontak kulit kelamin. Ada lebih dari 100 tipe HPV yang teridentifikasi, tapi HPV tipe 16 adn 18 yang menyebabkan lebih dari 70 persen kanker serviks di Asia Pasifik dan dunia.

"Kalau yang nikah muda banyak dan yang cerai terus kawin lagi juga banyak, maka kanker serviks juga makin banyak. Makanya jangan sering-sering kawin (menikah)," jelas Prof Dr dr Nila Djuwita Moeloek, SpM(K), Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dalam acara konferensi pers Pencanangan Gerakan Nasional Peduli dan Cegah Kanker Serviks dalam Rangka HUT YKI ke-35, di Kantor YKI, Jakarta, Rabu (18/4/2012).

Menurut Prof Nila, HPV yang menyebabkan kanker serviks memang mudah menular melalui kontak kulit kelamin dan hubungan seksual. Oleh karena itu, orang yang sering gonta-ganti pasangan risiko mengalami kanker serviks juga lebih besar.

"Virus HPV yang masuk tidak langsung menyebabkan kanker, tetapi butuh jangka waktu lama untuk replikasi sel. Virus ini punya autonom sendiri, sehingga dia bisa replikasi sel sendiri," lanjut Prof Nila.

Pada intinya setiap perempuan memiliki risiko terkena kanker serviks, meskipun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan peluang terkena kanker serviks, seperti bergonta-ganti pasangan.

Tidak semua penyakit kanker bisa diketahui secara pasti penyebabnya, tapi untuk kasus kanker serviks memang telah diketahui disebabkan oleh HPV (human pappiloma virus) yang sebagian besar disebabkan oleh penularan seksual.

Infeksi ini tidak menimbulkan gejala, seringkali orang datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah lanjut dan kankernya sudah bermetastatis (menyebar) ke organ lain.

Gejala yang muncul seperti pendarahan dari vagina, sakit panggul atau keputihan merupakan tanda bahwa kanker serviks sudah masuk ke stadium lanjut. Karenanya untuk mencegah kanker serviks jangan menunggu sampai gejalanya muncul.

Kanker serviks menimbulkan beban yang sangat besar bagi kaum perempuan Indonesia, padahal kanker ini bisa dicegah. Pencegahan primer dilakukan dengan edukasi atau sosialisasi dan vaksinasi, sedangkan pencegahan sekunder dengan deteksi dini melalui pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

(mer/ir)

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6379