Siti Khodijah Dirikan PIK Mahasiswa Hangtuah
Tanggal: Monday, 23 April 2012
Topik: Narkoba


TRIBUNNEWSCOM, 22 April 2012

PEKANBARU - Siti Khodijah adalah satu di antara sedikit generasi muda yang peduli tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, bahaya HIV/AIDS, dan narkoba bagi generasi muda Pekanbaru.

Siti begitu biasa disapa, bersama beberapa rekannya di kampus STIKES Hangtuah mendirikan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Mahasiswa Hangtuah. "Kami mendirikan PIK bersama-sama untuk berbagi informasi pada generasi muda baik tentang kesehatan reproduksi, bahaya HIV/AIDS dan Narkoba," ujarnya kepada Tribun.

Pendirian PIK Mahasiswa Hangtuah ini mendapat dukungan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Riau. Apalagi setelah satu diantara perintis kelompok itu terpilih menjadi Duta Mahasiswa BKKBN 2011.

Sebagai satu perintis, ada satu momen yang membuat Siti ingin serius mendirikan wadah konsultasi dan berbagi informasi tentang kesehatan reproduksi, bahaya HIV/AIDS, dan narkoba. Saat duduk di bangku SMA, ia mendapati salah satu temannya hamil diluar nikah dan satu teman lainnya kecanduan narkoba. "Setelah itu saya mulai tergerak mengajak anak muda agar bisa jalani hidup dengan positif," ulas wanita berjilbab tersebut.

PIK itu pertaka kali dirintis pada 2012. Ia merintis wadah informasi dan konsultasi itu bersama 10 rekannya. Semua anggota PIK memiliki visi yang sama untuk serius berbagai infromasi berbagai hal tentang fenomena remaja masa kini. Mulai dari kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan bahaya narkoba hingga pergaulan bebas.

Melalui PIK, Siti bersama rekannya berbagi wawasan dan pengalaman melalui penyuluhan dan layanan konselor. Layanan PIK itu terbuka bagi remaja mulai dari SMP hingga SMA. Bahkan juga terbuka bagi masyarakat umum yang hendak berkonsultasi.

Dikatakan gadis kelahiran Duri, 25 Februari 1990 itu, PIK memiliki dua program. Pertama, Pendidik Sebaya yang biasanya diberikan dalam bentuk penyuluhan. Sedangkan yang kedua Konselor adalah layanan untuk konsultasi.

"Dengan adanya layanan konselor atau konsultasi kami berusaha membantu mengarahkan dan membantu menyelesaikan permasalahan mereka terkait fenomena yang dihadapi," ujarnya.

Mereka yang memberikan penyuluhan dan konsultasi tersebut, kata Siti adalah mahasiswa STIKES yang berasal dari berbagai jurusan. Tapi semuanya berkumpul untuk misi yang sama, membantu dan memberi informasi, hingga solusi atas permasalahan yang dihadapi remaja. Apalagi mereka juga mendapat pelatihan dari pihak BKKBN Provinsi Riau dan PKBI.

Alhasil secara perlahan keberadaan PIK di kampus itu sejak 2011, PIK mendapat respon positif dari mahasiswa di kampusnya. Bahkan tak jarang datang remaja dari luar kampus yang hendak berkonsultasi di PIK.

"Kami senang banyak yang terbuka untuk berkonsultasi seputar masalahnya. Rahasia mereka terjamin kok. Sebab kita ingin jadikan semua itu pelajaran berharga bagi kita semua," ujarnya. (cr10)

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6387