Kasus HIV di Sintang Terus Meningkat
Tanggal: Wednesday, 02 May 2012
Topik: HIV/AIDS


KalBar Online, 01 May 2012

Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sintang meningkat setiap tahun.

Kurun lima tahun sejak 2006 hingga November 2011 terdapat 90 kasus HIV di kabupaten itu. Setiap tahun ada sedikitnya 18 kasus yang ditemukan. Dari November 2011 hingga Maret 2012 sedikitnya terdeteksi 12 kasus HIV. Data ini memperlihatkan kasus HIV di kabupaten wilayah timur Kalbar itu cenderung meningkat.

Kepala Dinas Kesehatan Sintang, dr Marcus Gatot menilai, peningkatan jumlah kasus itu disebabkan minimnya penyuluhan kepada masyarakat tentang penularan virus HIV/AIDS. Kalau pun ada penyuluhan dilakukan, dia memperkirakan tidak dilakukan secara benar.

Pada Oktober dan November 2011, dari 14 kecamatan di kabupaten itu, ada 10 kecamatan yang terdapat kasus HIV. Namun hingga Maret, sudah ada 13 kecamatan yang terinfeksi HIV.

Marcus ditemui di ruang kerjanya, mengatakan, satu kecamatan sisa bukan berarti bebas dari virus HIV, hanya belum ditemukan. Karena untuk menemukan orang yang terinfeksi HIV tidak mudah.

“Harus melalui banyak proses. Kita mesti mendekati kelompok-kelompok yang rawan. Seperti pekerja seksual, hidung belang, dan kelompok waria, yang merupakan risiko yang sangat tinggi tertular HIV/AIDS,” kata Marcus.

Kesulitan lain untuk mengetahui orang yang menular terinfeksi virus HIV, karena orang yang mengidap virus HIV susah dinilai. “Kita juga tidak bisa langsung melakukan pengecekan darah, karena untuk melakukan pengecekan darah harus mendapatkan persetujuan dari penderita tersebut,” jelas Marcus.

Mencegah penularan virus HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang melakukan penyuluhan terhadap remaja umur 15-24 tahun, dan sekolah-sekolah. Dalam program penanggulangan HIV penyuluh tidak hanya mencari penderita, namun penyuluh juga memberikan pemahaman HIV kepada masyarakat, khususnya remaja.

Alasan remaja dan sekolah-sekolah menjadi sasaran, Marcus Gatot Budi menilai, remaja umur 15-24 ini sangat penasaran tentang masalah seks. “Masa puber di mana masa seks sangat bergolak, jadi jika mereka tidak dikenalkan tentang HIV ini, bisa-bisa mereka salah menyalurkan, dan akan melakukan free sex. Free sex inilah yang menjadi tempat penularan virus HIV,” papar Marcus.

Marcus berharap, petugas kesehatan lebih berperan untuk memerangi virus HIV. “Untuk kasus HIV sudah menular sampai ke pelosok kecamatan atau desa, seperti yang ada di Ambalau dan Senaning. Jika tenaga kesehatan di sana tidak mengerti, petugas tidak akan bisa mengawasi masyarakat yang ada di sana. Apalagi mereka yang sudah memasuki stadium tiga, yang harus minum ARP setiap harinya,” tutup Marcus.

Sumber: http://kalbar-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6423