Menabukan Seks Bisa Berbahaya
Tanggal: Monday, 07 May 2012
Topik: Narkoba


detikHealth, 04 May 2012

Jakarta, Seks adalah kebutuhan dasar manusia layaknya makan dan minum. Namun seks sering dianggap tabu karena menyangkut hal yang sangat pribadi dan hanya layak diperbincangkan orang dewasa.

Menabukan seks dengan alasan norma-norma tertentu bisa berbalik menjadi bumerang sebab membuat permasalahan yang terkait kesehatan reproduksi menjadi tidak tertangani dengan baik.

“Orang yang menganggap seks itu tabu adalah bahaya laten. AIDS masuk ke Indonesia pada tahun 1998. Banyak orang yang tidak percaya penyakit tersebut bisa masuk ke sini karena Indonesia adalah negara religius. Akhirnya penanganan AIDS kurang optimal,” kata Zoya Amirin, M.Psi, psikolog seksual dalam acara Blogger Bicara Seks yang diselenggarakan BlogDetik di Gedung Aldevco Octagon, Kamis (3/5/2012).

Zoya juga menyayangkan tindakan pembubaran lokalisasi dengan alasan keagamaan. Alasannya, jika lokalisasi dibubarkan, maka para PSK yang biasanya ditampung di sana akan menyebar ke berbagai tempat sehingga lebih sulit diatur dan dipantau kondisi kesehatannya.

“Dengan tersebarnya para PSK. Malah lebih sulit memberi perawatan dan memantau masalah kesehatannya. Kalau dibubarkan penyakitnya bisa kemana-mana,” kata Zoya.

Zoya memberi contoh negara tetangga, Singapura. Di sana para PSK-nya diberi id card dan didata dengan rapi. Tujuannya agar memudahkan pengawasan dan memantau kondisi kesehatan. Jika ada yang melanggar tidak memeriksakan kesehatan atau tidak mau divaksin, maka izinnya bisa dicabut dan dilarang ‘beroperasi’.

Seks yang dibicarakan dengan baik akan membuka wawasan masyarakat mengenai seperti apakah seks yang sehat dan aman. Sedangkan untuk anak-anak dan remaja, bisa diajarkan tentang sex education yang baik dan benar. Remaja yang sudah mulai puber juga sebaiknya diajarkan mengenai pentingnya alat kontrasepsi.

Mengajarkan remaja mengenal alat kontrasepsi bukan berarti mengajak melakukan seks bebas, tapi mengenalkan bahayanya seks sembarangan, melindungi dari penyakit menular seksual dan kehamilan yang tak diinginkan.

“Saya pernah menyuruh mahasiswa saya yang rata-rata usianya 20 tahunan untuk membeli kondom. Setelah membeli kondom, saya tanya apakah dengan membeli kondom lantas mereka jadi ingin berhubungan seks? Ternyata tidak. Jadi bukan kondom yang menjadi masalahnya, tapi kesiapan mental,” kata Zoya.

(pah/ir)

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6431