Ayo selamatkan orangutan
Tanggal: Friday, 11 May 2012
Topik: Narkoba


ANTARA News, 10 May 2012

Jakarta - Sekitar 600 orangutan muda asyik bercengkrama dengan sesama dalam sebuah kandang terbuat dari besi baja berukuran sangat besar.

Beberapa diantaranya asyik gelayutan. Ada pula yang tidur-tiduran secara berkelompok.

Mereka bukan untuk dipertontonkan, apalagi menunggu pembeli yang berminat dipelihara atau dibunuh untuk diambil dagingnya.

Mereka beruntung dibanding dengan "saudara-saudara" mereka yang berada di tangan orang yang tidak bertanggungjawab atau bahkan lebih beruntung lagi mereka tidak dibantai oleh pemburu-pemburu liar yang masih saja berkeliaran di Kalimantan.

Adalah Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, yang selama ini sangat peduli pada keselamatan orangutan.

"Sejak berdiri November 1999 setidaknya sudah ada 1.200 orangutan yang dirawat dan dipelihara di sini untuk selanjutnya dilepas ke hutan," kata Program Manajer Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng, Anton Nurcahyo.

Menurut Anton, sesungguhnya pemerintah telah mengeluarkan perlindungan hukum terhadap orangutan seperti Peraturan Perlindungan Binatang Liar No.233 Tahun 1931, UU No 5 Tahun 1990, SK menhut No. 301 Tahun 1991 dan PP No.7 Tahun 1999.

Sesuai ketentuan itu maka siapa pun yang memelihara, menangkap, menjual atau menyelundupkan orangutan, owa-owa, kukang dan beruang adalah perbuatan melanggar hukum.

"Sekalipun sudah ada dasar hukum, masih saja banyak warga yang membunuh atau memelihara orangutan di rumah kediaman," katanya.

Incaran pemburu

Dia mengatakan, sesungguhnya tidaklah mudah memelihara orangutan di rumah karena hewan ini rentan tertular penyakit manusia.

Penyakit yang mudah tertular orangutan adalah hepatitis, tuberkulosis, HIV/AIDS hingga herpes.

"Oleh sebab itu semua orangutan yang dibawa masuk ke lokasi ini harus melalui uji kesehatan dahulu seperti mengambil contoh darah untuk mengetahui apakah mereka terjangkit penyakit atau tidak," kata Anton.

Bentuk fisiknya yang lucu, katanya, membuat banyak orang yang memburu hewan itu karena nilai jualnya yang tinggi.

Gaye Thavisin, seorang pemandu wisata warga Australia yang sudah lama menetap di Kalimantan, mengatakan orangutan adalah hewan unik sehingga bernilai tinggi untuk ditonton dan diperjualbelikan.

"Bentuknya unik dan lucu sehingga tidak jarang menjadi incaran pemburu liar," katanya.

Dia menyesalkan masih banyak masyarakat di sekitar habitat orangutan yang terus membantai dan mencuri orangutan dari hutan, untuk selanjutnya dijual ke kota-kota.

Thavisin mendukung pemerintah Indonesia untuk tegas menindak pelaku pembantaian dan penculikan orangutan.

Dia menegaskan, kerusakan hutan juga seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar habitat orangutan tidak hilang.

"Orangutan sangat senang hidup di hutan dan bergelayutan di dahan pohon. Sehingga kalau hutan gundul maka keberadaan hewan itu juga akan terganggu," katanya yang cukup fasih Bahasa Indonesia.

Efek jera

Untuk mengindari pembantaian dan penangkapan ilegal, Anton mengingatkan, pemerintah agar serius melindungi orangutan seperti dengan menegakkan hukum.

"Pemerintah harus memberikan efek jera dan tegas terhadap siapa pun yang membunuh orangutan," kata Anton.

Pembiaran dan tidak tegasnya hukum terhadap pembantai orangutan akan mengakibatkan mamalia itu menuju kepunahan.

Dia mencontohkan, beberapa bulan lalu aparat keamanan menangkap pembantai orangutan di Kalimantan Timur, tapi si pembantai hanya dihukum delapan bulan.

"Saya minta kepada pemerintah untuk bisa memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan terhadap orangutan mengingat hewan itu termasuk yang dilindungi menurut undang-undang," kata Anton.

Pemerintah juga didesak menindak tegas pembalakan liar mengingat jika hutan habis maka tempat hidup hewan itu akan rusak.

Dia mengakui selama ini yang banyak mengucurkan dana perlindungan orangutan adalah negara asing, khususnya dari Eropa.

Setiap tahun pihaknya setidaknya membutuhkan Rp1,6 miliar untuk menyelamatkan hewan dan 90 persen berasal dari negara asing.

Sumber: http://www.antaranews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6456