Cegah HIV dengan Premarital Check Up
Tanggal: Tuesday, 22 May 2012
Topik: HIV/AIDS


okezone.com, 21 May 2012

KETIKA
Anda dan pasangan memutuskan menikah, tentu persiapan pun akan dilaksanakan secara total. Namun, apakah Anda dan pasangan sudah menjalani premarital check up?

Premarital check up penting dilakukan pasangan sebelum menikah. Tujuannya, agar pasangan saling mengenal luar-dalam dan melakukan antisipasi, terutama untuk merencanakan kehamilan setelah menikah.

"Saya selalu menyarankan untuk calon suami-istri. Karena kita tidak tahu, tidak hanya untuk HIV, tapi untuk semua penyakit yang bisa ditularkan suami-istri atau dari orangtua ke bayi," tutur Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAI), dalam seminar seminar “Di Balik MDG's: Peran Indonesia Sebagai Negara Berpenghasilan Menengah dalam Mengatasi Masalah dan Hak Seksual dan Kesehatan Reproduktif” di Auditorium FKUI, Jakarta, Senin (21/5/2012).

Mengenal pasangan melalui pemeriksaan kesehatan pranikah sebaiknya jangan dipandang sebagai kekhawatiran. Justru pemeriksaan kesehatan ini merupakan tindakan pencegahan untuk mendeteksi kesehatan reproduksi dan genetika.

Melalui pemeriksaan laboratorium (cek darah), Anda dan pasangan yang akan menikah bisa terbantu memastikan status kesehatan secara menyeluruh. Selanjutnya, hasil lab ini akan menjadi rujukan pasangan saat nanti merencanakan kehamilan dan dikonsultasikan ke dokter kandungan.

"Kalau misalnya calon pengantin itu tetap cinta, walaupun tahu calonnya itu punya virus HIV, ya tidak akan masalah. Selain HIV, juga masih banyak penyakit menular seks lainnya. Itu semua justru jadi bisa dibicarakan bersama, dicari antisipasi jika ditemukan penyakit yang bisa menular, mereka jadi tidak menular ke pasangannya. Setiap orang tentu memiliki tanggung jawab akan hal itu, menjaga kesehatan dan keselamatan pasangan dan keturunannya," papar Nafsiah.

Nafsiah juga menjelaskan pentingnya menggunakan kondom bagi pasangan yang tahu seks mereka berisiko.

"Kalau memang ada HIV, setiap berhubungan seks harus pakai kondom agar tidak menularkan ke pasangannya. Kalau mau punya anak, pastikan kondom hanya dilepas saat istri dalam masa subur. Hal ini dapat meniminalisir risiko menularkan penyakit, tetapi kemungkinan hamil dapat lebih besar," jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan nasib sang buah hati? "Selama kehamilan, bayi akan terus diperiksa. Bagi perempuan yang positif HIV akan diberikan terapi pengobatan, dikasih obat antiretroviral (ARV). Dengan itu, jumlah virus dalam darah akan menurun. Risiko pada bayi tetap ada, tapi bisa diturunkan hingga tiga persen kemungkinannya. Bisa diupayakan yang terbaik jika ada keterbukaan," tutupnya. (tty)

Sumber: http://health.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6510