HIV/AIDS, Saatnya yang Muda yang Peduli
Tanggal: Thursday, 24 May 2012
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 23 May 2012

KEDIRI - Di sebuah persimpangan jalan, seorang gadis duduk bersimpuh di atas trotoar. Meskipun sedu suara tangisnya tenggelam dalam bising knalpot kendaraan, tetap tak menutup pandangan akan beban masalah yang dipikulnya. Lalu, seorang pria tua berkopyah hitam menghampirinya dan menuntunnya berteduh di bawah pohon rindang yang hanya beberapa langkah dari tempatnya bersimpuh.

Pada orangtua yang bijak tutur katanya itu, gadis berbusana modis itu menceritakan masalahnya. Anjar, nama gadis itu, ia mahasiswi semester akhir sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Kediri. Gadis berpostur tinggi dan bertubuh sintal itu datang dari daerah untuk menimba ilmu sebagaimana diamanatkan oleh orangtuanya yang ada di kampung.

"Saya telah kotor dengan penyakit yang saya derita. Benci, malu, saya ingin mati saja," kata Anjar.

"Kenapa begitu, ceritakanlah barangkali saya bisa membantu, " ujar orangtua yang ternyata adalah seorang ustadz dari mushola yang berada di seberang jalan. Anjar mulai bercerita. "Saya telah menghianati amanat orangtua saya. Di waktu seharusnya belajar, aku malah menghabiskannya bersama teman-temanku. Berhura-hura pada siang maupun malam," cerita gadis berambut sebahu itu.

Akibat model kehidupannya itu, sebuah penyakit menjangkitinya. "Kini aku positif HIV, dan teman-temanku menjauhiku. Aku bagai sendirian di dunia ini," keluh Anjar.

Mendengar cerita itu, Pak Ustadz meninggalkannya namun cepat kembali dan membawa segelas air putih. Saat Anjar meminum air itu, Pak Ustadz memberikan wejangan yang membesarkan hati Anjar. "Kini engkau sudah bertobat, saatnya memperbaiki diri. HIV itu tidak kotor, kamu masih bisa beraktivitas dengan baik," kata ustadz.

Dan, suara tepuk tangan yang riuh dari sekitar 300 penonton yang berasal dari pelajar dan mahasiswa se- Kota Kediri mengakhiri sepenggal drama yang dibawakan oleh Komunitas Aksara dari Universitas Nusantara PGRI itu. Drama tersebut sengaja digelar dalam rangka Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) yang digelar di Taman Sekartaji, Rabu (23/5/2012) malam.

"Dalam MRAN tahun ini kami mengundang para remaja karena memang ada trend kasus HIV berasal dari usia mereka," kata Ardi Bastian, pengelola program Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kota Kediri.

Data dari Dinas Kesehatan setempat menyebutkan, penderita HIV mencapai 205 orang. Delapan puluh persen dari jumlah tersebut, epidemologinya adalah kalangan usia produktif, yaitu usia 25 hingga 49 tahun. Penyebab utamanya adalah pergaulan yang berujung pada seks bebas. oleh sebab itu proyeksi program kedepan adalah pemberdayaan pemuda.

Wali Kota Kediri, Samsul Azhar dalam sambutannya mengatakan, fenomena HIV bagaikan gunung es sehingga dibutuhkan perhatian dari segenap kalangan untuk mengikis habis hingga dasar gunung. "Tugas kita semua, terutama anda-anda sebagai pegiat penanggulangan HIV/AIDS ini untuk menghancurkan gunung es itu agar generasi kita tidak punah," kata Samsul Azhar.

Dalam acara tersebut, berbagai tampilan diusung oleh para peserta, mulai dari drama, puisi hingga tari. Acara ditutup dengan renungan bersama yang diterangi dengan temaram lilin.

Sumber: http://regional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6521