Diakui WHO Contoh Penanganan ODHA se-Indonesia Klinik Mawar Singkawang, Profil P
Tanggal: Monday, 04 June 2012
Topik: Narkoba


Harian Equator, 29 May 2012

Singkawang – Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Singkawang terus bertambah. Hingga akhir Desember 2011 terungkap 617 kasus dan pada triwulan pertama 2012 bertambah 45 sehingga menjadi 662 kasus.

“Jumlah ODHA ini merupakan jumlah yang berhasil diungkap Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz,” tutur Asnaim, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Singkawang kepada wartawan, kemarin.

Dari jumlah tersebut sekitar 80 persen tertular melalui hubungan seksual, terutama berhubungan dengan Penjaja Seks Komersil (PSK). Lainnya karena penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian.

Asnaim mengungkapkan, ada beberapa titik di Kota Singkawang yang menjadi sangat rentan sebagai tempat penularan virus penyakit mematikan itu. Di antaranya tempat-tempat hiburan malam yang menawarkan wanita penghibur. “Mereka yang terinfeksi HIV/AIDS sering tidak menyadarinya. Mereka baru mengetahuinya setelah menjalani pemeriksaan,” katanya.

Untuk pemeriksaan, Pemkot Singkawang khususnya Klinik Mawar terus mendorong warga yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Mereka yang riskan dapat langsung datang ke Klinik Mawar, Puskesmas Singkawang Selatan, dan Puskesmas Singkawang Tengah.

“Sebenarnya sudah banyak yang tertular, itu fakta yang tidak bisa dibantah. Oleh karenanya kita mendorong agar mereka yang berisiko tinggi memeriksakan diri. Ini sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut,” kata Asnaim.

Terkait semakin meningkatkan jumlah ODHA di Kota Singkawang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Singkawang Drs Syech Bandar MSi menilainya sebagai kemajuan pengungkapannya. Sebagai fenomena gunung es, penyakit yang dianggap aib ini sedikit yang muncul di permukaan tetapi lebih banyak yang tidak kelihatan.

Menurut Bandar, semakin banyak yang terungkap maka perlu peningkatan upaya untuk penanggulangan dan pengendaliannya secara komprehensif, melibatkan seluruh pihak terkait. “Tujuannya untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan diskriminasi serta meningkatkan kualitas ODHA,” jelasnya.

Pengendalian komprehensif tidak hanya melakukan upaya kuratif dan rehabilitatif. Tetapi juga meliputi promotif dan preventif dengan melibatkan sektor-sektor terkait termasuk pihak swasta dan masyarakat seperti LSM, Kelompok Dampingan Sebaya (KDS), ODHA, keluarga, tokoh agama, dan masyarakat.

Ketika Dirjen PPLK Kesehatan RI dr HM Subuh ketika berkunjung ke Singkawang menceritakan, HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada 1987. Di Singkawang, Kalbar pada 1993.

Berdasarkan data Kemenkes RI, dari 1987 hingga sekarang, 106.000 orang tercatat positif HIV/AIDS. “Kemenkes RI sadar betul hal itu harus dikendalikan. Untuk itu perlu adanya pelayanan dan komitmen,” kata Subuh beberapa waktu lalu.

Dia mengharapkan Kota Singkawang berani memasang plang untuk pelayanan HIV/AIDS di Klinik Mawar dan model penyuluhan dari stakeholder-nya, agar Kota Singkawang menjadi yang terbaik di Indonesia dalam menanggulangi dan mengendalikan HIV/AIDS.

Subuh mengatakan dengan program yang komprehensif, pelayanan berbasis pada pelayanan dasar dapat diterapkan supaya bisa terjangkau, juga bisa mengendalikan penderita HIV/AIDS. Lebih dari itu, bisa memperkenalkan kepada masyarakat bahwa penyakit ini bisa dihindari.

“Virus HIV/AIDS menyerang pada RNA dan sifatnya ganas, Virus itu bisa melakukan copy-paste 100 juta sel. Semoga kita bisa mengendalikan dan memberikan pelayanan yang prorakyat, yang inklusif, dan bisa diakses oleh siapa saja, serta memberi respons kepada siapa saja,” ujar Subuh.

Diakui WHO

Klinik Mawar RSUD sudah mendapat pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk dicontoh kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Team Leader Medical Officer HIV/AIDS Indonesia Oscar M Barrenche MD MSd menyatakan itu pada Jambore Prevention of Mother to Child Transmission Singbebas di Singkawang.

“Klinik Mawar telah menerapkan praktik yang sangat bagus tentang pencegahan dan penanganan terhadap orang yang terinfeksi HIV/AIDS,” ungkap Oscar.

Klinik ini dalam mencegah dan menangani HIV/AIDS bekerja sama dengan komunitas lokal, ODHA, gigolo, PSK, dan pemakai narkotik dan obat terlarang (narkoba). “Pendekatan yang digunakan Klinik Mawar cukup bagus, sehingga mampu mengurangi stigma negatif terhadap ODHA,” tambah Oscar.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS RSUD dr Abdul Aziz Kota Singkawang dr Budi Enoch SpPD mengatakan WHO bahkan menyusun buku profil kinerja Klinik Mawar yang dicetak 2.000-3.000 eksemplar untuk disebarkan di seluruh Indonesia. “Dengan harapan pokja di tempat lain juga menerapkan kinerja Klinik Mawar Singkawang,” kata Enoch yang juga pimpinan Klinik Mawar itu.

Menurutnya, WHO memilih Klinik Mawar Kota Singkawang karena dianggap berhasil dalam mencari orang yang terinfeksi HIV/AIDS, menanggulanginya, manajemen, pencatatan, pelaporannya cukup baik. “Makanya dibuatlah buku tentang Klinik Mawar ini agar bisa dicontoh daerah lain,” katanya.

Sebenarnya, lanjut Budi, yang paling dikagumi perwakilan WHO terhadap Klinik Mawar ini karena adanya penyertaan dana dari Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang. “Di daerah lain itu belum pernah ada, karena kebanyakan hanya mengharapkan proyek-proyek,” ungkapnya.

Budi memberikan apresiasi kepada Pemkot Singkawang, kendati APBD defisit, tetap memberikan perhatian kepentingan sosial. “Ini sebagai bentuk kepedulian untuk pelayanan publik terutama terhadap dunia kesehatan,” paparnya. (dik)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6548