Tak Masalah ODHA Jadi PNS
Tanggal: Monday, 04 June 2012
Topik: Narkoba


Harian Equator, 29 May 2012

Stigma atau pandangan negatif terhadap pengidap Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Singkawang, Bengkayang, dan Sambas (Singbebas) nyaris tidak ada. Masyarakat permisif, dengan menerima pegawai negeri sipil (PNS) tetap bekerja.

“Orang yang mengidap HIV yang menjadi PNS itu, selama ini menjadi pasien Klinik Mawar Singkawang,” ungkap dr Budi Enoch SpPD, Pimpinan Klinik Mawar kepada wartawan, baru-baru ini.

Budi yang juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS RSUD Abdul Aziz enggan menyebutkan lebih detail tentang pasiennya itu. Dia salut PNS terkena HIV tidak dipermasalahkan, ini menunjukkan stigma terhadap ODHA nyaris tidak ada di wilayah Singbebas.

“Kita harapkan seluruh masyarakat bisa menerima ODHA sebagai masyarakat yang biasa. Artinya selain tidak harus diprioritaskan, juga tidak dikucilkan,” kata Budi yang menambahkan bahwa tidak seorang pun di dunia ini mau terkena penyakit.

Di samping berhasil sedikit demi sedikit menghilangkan stigma ODHA dengan susah payah, Tim Klinik Mawar juga berhasil mendorong warga yang berisiko tertular HIV/AIDS untuk memeriksakan diri dan menjadi pasiennya agar mendapatkan perawatan bila positif tertular. “Pasien kita bukan hanya wilayah Singbebas, bahkan ada juga pasien dari Malaysia,” ungkap Budi.

Di Klinik Mawar itu, pasien akan mendapatkan perawatan intensif, termasuk pemberian ARV, obat yang sanggup menahan perkembangbiakan HIV/AIDS dalam tubuh sehingga pasien dapat hidup lebih lama.

Terkait pemberian ARV ini, Klinik Mawar pernah mendapat penghargaan nasional berupa Kimia Farma Award 2010 sebagai Pemberi ARV terbaik di Indonesia.

Klinik ini juga mendapat perhatian serius dari World Health Organization (WHO) yang menjadikannya sebagai salah satu contoh bagi klinik lainnya di Indonesia dalam menangani ODHA.

Obat gratis

Kendati banyak isu dan mitos ada obat herbal yang mampu mengobati HIV, namun hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu.

Tetapi setidaknya usia penderita dapat lebih panjang karena obat Antiretroviral (ARV). “ARV bertugas meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan jumlah virus, dalam arti mencegah agar virus tidak berkembang biak,” jelas Cepto Mediyanto, Konselor Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz.

Kendati tidak menyembuhkan, ARV bisa membuat penderita HIV positif hidup lebih produktif. Obat ini selain mengurangi jumlah virus HIV dalam darah, juga meningkatkan jumlah sel CD4 positif, yakni jumlah limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi.

Dengan jadwal yang ketat, minum obat ini tidak boleh meleset agar bisa menekan jumlah virus di tubuhnya. Jika tidak disiplin maka obat akan menjadi resisten terhadap tubuh.

Cepto menjelaskan, virus dalam tubuh seseorang seperti HIV ini tidak bisa keluar, sehingga obat ARV harus dikonsumsi seumur hidup. Akibatnya sangat memungkinkan penderita jenuh. Untuk mengatasi kejenuhan dibutuhkan dukungan keluarga dan juga masyarakat sekitarnya.

“Untuk itulah diadakan seminar ini, agar motivasi pengobatan ARV ODHA dapat dilakukan secara efektif. Obat ARV ini merupakan bantuan dari pemerintah sehingga tidak dipungut biaya,” kata Cepto.

Orang yang berhak mendapatkan obat ARV ini, jelas Cepto, yakni ODHA yang secara klinis memenuhi persyaratan, kesiapan, dan harus mendapatkan dukungan dari keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Singkawang Ahmad Kismen mengungkapkan, jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat di Klinik Mawar Agustus 2011 telah mencapai 853 orang. Sebanyak 65 persen dari jumlah tersebut berasal dari Kota Singkawang.

Jumlah tersebut menjadikan Kota Singkawang sebagai daerah kedua setelah Kota Pontianak sebagai daerah yang penderita HIV/AIDS terbanyak. Tetapi dibandingkan jumlah penduduk atau populasi, persentase Singkawang lebih tinggi.

“Oleh karenanya, selain peran pemerintah yang memiliki keterbatasan, perlu juga dukungan ODHA itu sendiri untuk menekan kasus baru HIV/AIDS,” pungkas Kismen.

Sebagai perbandingan, data penderita HIV per akhir Desember 2011 yang direkam KPAD Kalbar berjumlah 3.339. Positif AIDS sudah 1.610 dan 406 di antaranya sudah meninggal. (dik)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6549