Derita Pengidap HIV di Myanmar
Tanggal: Tuesday, 05 June 2012
Topik: HIV/AIDS


VIVAnews, 02 Juni 2012

Cukup berat beban yang harus ditanggung Jam, warga Myanmar yang juga ibu enam anak ini. Dia ditelantarkan oleh keluarganya dan terpisah dari suami serta enam anaknya hanya karena dicurigai mengidap HIV.

Semua berawal pada 2008, ketika warga sebuah desa di Irrawaddy Delta ini jatuh sakit. Dia disuntik dengan jarum yang kotor oleh seorang dokter gadungan. Penderitaannya bertambah setelah desa tempat tinggalnya tersapu topan Nargis pada Mei 2011 dan menewaskan dua anaknya.

Kantor berita Reuters, Jumat 1 Juni 2012 memberitakan, Jam kini tinggal di sebuah penampungan pengidap HIV bersama ratusan orang yang senasib dengannya. Anak-anak penghuni penampungan lebih mendapat perhatian dari para sukarelawan dan dokter di lokasi itu.

Jam seperti kebanyakan penderita HIV lainnya di Myanmar yang ditolak kembali ke daerah asal, karena stigma negatif penderita HIV/AIDS yang telanjur mengakar. Seperti Jam yang mengatakan, "Tetangga saya di kampung menolak bicara pada saya, karena mereka tahu penyakit saya berbahaya."

Hal ini diakui oleh Thein Htay, seorang warga berusia 73 tahun yang sudah tiga tahun menjadi sukarelawan. "Tetangga di sekitar penampungan awalnya agak takut dengan para penderita di sini, sehingga selalu menghindar. Saya dan para sukarelawan di sini kemudian mencoba memberi mereka pengertian tentang AIDS. Sekarang, banyak yang sudah lebih lunak, walau tidak semuanya," katanya.

Penampungan yang didirikan pada 2002 ini sempat terancam tutup pada 2010 setelah Kementerian Kesehatan Myanmar memperingatkan kemungkinan menyebarnya HIV dari para pasien. Namun, pusat penampungan itu tetap buka setelah dikunjungi tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, usai dibebaskan dari tahanan rumah.

Htay pesimistis pemerintahan baru Myanmar yang mulai tersentuh demokrasi bisa berbuat banyak. Menurut dia, perubahan baru benar-benar akan terjadi bila Partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Suu Kyi berkuasa.

Badan kemanusiaan Doctors Without Borders menyatakan, sebanyak 85 ribu penduduk Myanmar yang mengidap HIV tidak mendapat perawatan akibat kurangnya pendanaan. Menurut para pekerja kesehatan, ketidakpedulian rezim militer berpengaruh pada penyebaran HIV di Myanmar, terutama di kalangan pekerja seks dan pemadat, sejak era 90an.

Ketidakpedulian pada masalah HIV/AIDS ini memaksa badan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, dan Malaria untuk memangkas dana bantuan ke sejumlah negara, termasuk Myanmar. Buyarlah rencana negeri ini untuk menyuplai obat HIV bagi 46.500 penderitanya.

Pada 2009, PBB memperkirakan dari 60 juta penduduk Myanmar, sebanyak 240 ribu di antaranya terinfeksi HIV. Setiap tahunnya, tercatat 18 ribu nyawa sekarat akibat AIDS.

Dengan jumlah penduduk yang dua kali lebih banyak, Thailand, negara tetangga Myanmar, memiliki jumlah penduduk yang terinfeksi HIV dua kali lebih banyak. Namun, mereka bisa menjalani hidup yang lebih normal, karena penerimaan masyarakat cukup besar. (art)

Sumber: http://dunia.vivanews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6562