Sering Jadi Sasaran Kemarahan Pasien
Tanggal: Tuesday, 05 June 2012
Topik: Narkoba


HIV/AIDS menjadi momok bagi setiap orang. Pengidap virus mematikan ini sebenarnya menghadapi situasi yang kompleks, karena selain menghadapi penyakitnya, mereka juga kerap mengalami diskriminasi dan stigma dari masyarakat maupun keluarga. Diperlukan peran seorang Konselor VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Sumut Pos, 05 Juni 2012

“Kasus kematian akibat HIV/AIDS masih saja tinggi. Setiap bulannya, sekitar 10 persen ditemukan kasus HIV/AIDS,’’sebut Konselor Biro Psikologi VCT RSUD dr Pirngadi Medan, Indah Kumala MPsi. Dikatakannya, terapi secara komprehensif harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. ‘’Saat ini, kasus HIV/AIDS lebih banyak ditemukan pada perempuan dari pada laki-laki. Kebanyakan mereka tidak terima saat mengetahui statusnya HIV positif. Disinilah peran seorang Konselor VCT untuk mendampingi pasien,” tambah Indah.

Kepiawaian seorang konselor VCT untuk memberitahukan status pasien yang HIV positif sangat diperlukan. “Banyak pasien yang tidak terima dengan status mereka terutama perempuan. Disinilah berbagai teknik harus kita lakukan,’’ terangnya.

Di rumah sakit milik Pemko Medan itu sendiri per harinya lebih dari 10 pasien yang memeriksakan diri. Namun tidak semua dari mereka yang HIV Positif. “Kebanyakan dari mereka adalah Wanita Pekerja Seks (WPS). Awalnya mereka yang memeriksakan diri tidak mau mengaku dengan latar belakang pekerjaannya. Saya selalu bilang pada mereka apapun yang kita lakukan memiliki dampak baik positif maupun negatif. Dengan melakukan pendekatan, pasien lebih terbuka. Dari sana, kita lebih mudah mendampingi mereka,” urai Indah.

Tak jarang, pasien menjadi histeris saat mengetahui statusnya. “Pernah suatu kali, pasien nggak terima dengan status HIV yang diidapnya. Mereka marah dan bahkan mencoba memukul saya karena mereka pikir saya berbohong. Tapi setelah dibicarakan dan saya memberi penjelasan kepada pasien, barulah mereka mau menerima keadaannya,’’ ungkapnya lagi.

Memang membutuhkan waktu serta pendekatan yang baik pada pasien. Apalagi untuk diterima keluarganya. Karena tak jarang mereka mengalami diskriminasi dari keluarga sendiri. Hingga mengakibatkan gangguan psikis atau mental. Tentunya gangguan ini akan berdampak pada daya tahan tubuh seorang pengidap HIV/AIDS.

Psikoterapi transpersonal sendiri, tambah Indah, sangat efektif dilakukan untuk menurunkan stress para pengidap HIV/AIDS. Terapi ini, bermanfaat dilakukan saat awal diagnosis HIV, setelah konseling VCT. Untuk itu, berbagai materi transpersonal harus dikuasai seorang Konselor VCT, baik secara teoritis maupun praktis,” sebutnya. (mag-11)

Sumber: http://www.hariansumutpos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6570