Di Sumut Terdapat Seribuan Pengidap HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 15 June 2012
Topik: HIV/AIDS


The Globe Journal, 06 Juni 2012

Medan - Pengidap Human Immunodeficiency Virus atau HIV dan AIDS dalam sepuluh tahun terakhir telah menjelma menjadi epidemi di Sumatera Utara dan meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan terbesar dipicu oleh penderita yang juga pencandu narkotika jenis suntik. Demikian dikatakan Sekretaris Pelaksana Harian Komite Penanggulangan AIDS Sumatera Utara (Sumut) Achmad Ramadhan kepada The Globe Journal Rabu (6/6) hari ini.

Achmad mengungkapkan dari tahun ke tahun jumlah temuan kasus HIV/AIDS terus meningkat. Jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat di Sumut hingga Juni 2012 sebanyak 1.316 orang. Jumlah tersebut hanya 10 persen saja dari jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya. Dia menyatakan, masih banyak penderita HIV/AIDS yang tak terdata karena masih minimnya klinik VCT (voluntary counseling testing), tempat layanan konseling dan tes HIV/AIDS secara suka rela di Sumut.

"Ini kan fenomena gunung es, artinya penderita yang terdata saja yang ada dalam catatan kami. Sementara penderita yang tidak terdata, jumlahnya lebih dari itu. Kami memperkirakan, penderita yang terdata ini hanya 10 persen dari total jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya, jadi kalau di Sumut mungkin saat ini sudah lebih dari 13.000 orang menderita HIV/AIDS," kata Achmad.

Dia menjelaskan dii Sumut, data di Komisi Penanggulangan AIDS mencatat Medan sebagai tempat yang paling banyak penderitanya, hingga 969. Namun, dari 28 kabupaten/kota, baru 22 yang melaporkan ada penderita HIV/AIDS. Sebenarnya kota/kabupaten dengan tingkat penderita HIV/AIDS dihitung berdasarkan temuan kasusnya di kota/kabupaten tersebut.

Bisa saja, penderitanya berasal dari luar Medan, tetapi karena dia berobat ke Medan, maka kasusnya ditemukan di Medan dan menjadi catatan jumlah penderita di kota ini. Pada banyak kasus, pasien yang dirawat di Medan memang berasal dari luar Medan.

"Komisi Penanggulangan AIDS semakin mengkhawatirkan peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Sumut. Bila tak ada program intervensi, jumlah kasus HIV/AIDS hingga tahun 2014 bisa mencapai 157.829. Kalau di pusat sudah ada mekanisme penemuan kasus secara dini. Seseorang yang baru terinfeksi HIV tahap awal, bisa dilakukan pencegahan agar tak menularkan virusnya kepada orang lain. Tindakan penemuan kasus secara dini ini yang belum banyak dilakukan di Sumut," katanya.

Achmad menuturkan, jumlah penderita yang terkena HIV/AIDS untuk kategori pencandu narkotika jenis suntikan lonjakannya sangat luar biasa. Setiap tahun bisa meningkat hingga 60 persen dari penderita yang terdata. Bayi dan pasangan pencandu narkoba suntik menjadi sangat rentan tertular HIV/AIDS, katanya.

Data perkiraan Komisi Penanggulangan AIDS tentang orang terinfeksi virus HIV/AIDS di Sumut menyebutkan, 60 persen merupakan pencandu narkoba suntik, 14 persen pelanggan wanita penjaja seks, 9 persen pasangan pencandu narkoba suntik, 5 persen lelaki homoseksual, sedangkan sisanya merupakan wanita penjaja seks, pasangan pelanggan wanita penjaja seks, waria dan pelanggannya, serta penghuni penjara.

Dia menambahkan Komisi Penanggulangan AIDS Sumut, menurut Achmad, saat ini tengah menjalin kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk memberikan layanan konseling dan pusat informasi di beberapa perusahaan. Ini merupakan program penanggulangan di tempat kerja. Selain itu, kami juga tengah memberdayakan komisi penanggulangan AIDS di kabupaten dan daerah, ujarnya. Terkait upaya

Komisi Penanggulangan AIDS Sumut, Pemprov Sumut mengakui masih sangat terbatas dalam memberikan bantuan meski ancaman epidemi AIDS di Sumut sudah terjadi. Setiap tahun, bantuan APBD Sumut untuk program penanggulangan AIDS masih sangat minim, jumlahnya, tak lebih dari Rp 125 juta.

"Jumlah klinik VCT di Sumut juga masih sangat terbatas. Selain Medan, kota lain yang memiliki klinik VCT di Sumut, lain, Lubuk Pakam, Serdang Bedagai, Simalungun, Langkat, dan Balige. Keberadaan klinik-klinik tersebut juga berperan dalam menjamin distribusi obat antiretroviral (ARV). Sejauh ini untuk Sumut distribusi obat antiretroviral memang masih belum bermasalah. Hanya saja pendistribusiannya masih terbatas pada tempat-tempat di mana terdapat klinik VCT," tambahnya.

Sumber
: http://www.theglobejournal.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6575