Selama 2011 di Jakarta Terjadi 2.605 Kasus HIV-AIDS
Tanggal: Friday, 15 June 2012
Topik: HIV/AIDS


PRLM, 11 Juni 2012

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, penanggulangan HIV-AIDS menjadi salah satu tanggung jawab Pemprov DKI, terutama dalam memberikan bantuan medis kepada penderita. Para petugas kesehatan Pemerintah Provinsi DKI berupaya keras untuk membantu memberikan pengobatan kepada mereka yang mengidap penyakit HIV-AIDS.

“Selain sosialisasi yang kita berikan, kita juga berikan tempat pengobatan yang mudah dicapai penderita, terutama di puskesmas kecamatan kita di DKI sudah ada alternatif pengobatan. Ini yang menyebabkan mereka (penderita) melapor, sehingga kita punya datanya bertambah,” demikian ungkap Gubernur Fauzi Bowo.

Gubernur Fauzi Bowo mengakui, DKI Jakarta salah satu provinsi dengan penderita HIV-AIDS yang cukup tinggi setelah Papua. "(Tercatat ada) sebelas ribu lebih penderita HIV dan AIDS. Saya prihatin (akan jumlah ini), namun di sisi lain, kita berhasil mengubah stigma. Yang dulu ditutup-tutupi, sekarang tidak. Sekarang orang mencari pengobatan, dia melapor dan kita berikan pengobatan itu,” kata Fauzi Bowo.

Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta mencatat, sebanyak 2.605 kasus HIV-AIDS terjadi selama tahun 2011. Dalam mengatasi penderita, Pemprov DKI sampai sekarang telah menyediakan 32 rumah sakit dan 19 puskesmas di ibu kota yang dilengkapi pelayanan HIV/AIDS.

Gubernur Fauzi Bowo menambahkan, dalam penanggulangan HIV-AIDS, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, namun dibutuhkan pula partisipasi masyarakat, termasuk para sukarelawan dari lingkungan lembaga swadya masyarakat (LSM).

Warga Jakarta kepada VOA mengatakan, mereka memperoleh banyak informasi terkait penanggulangan HIV-AIDS dari para petugas kesehatan pemerintah dan aktivis LSM . Beberapa warga yang lain mengatakan wilayahnya belum tersentuh penyuluhan mengenai HIV-AIDS dari petugas pemerintah.

Lestari (33 tahun), seorang ibu rumah tangga warga Pancoran Jakarta Selatan mengatakan ikut prihatin dengan hal ini dan menyayangkan tidak adanya petugas penyuluhan pencegahan HIV-AIDS di wilayahnya. Demikian juga Mukhtar (27 tahun) , warga Benhil Jakarta Pusat.“Pemerintah belum serius dalam pencegahan HIV-AIDS, salah satunya upaya pencegahan dengan peningkatan pembekalan kepada generasi muda, tentang tindakan yang menjurus atau berisiko terjangkit HIV-AIDS," kata Mukhtar.

Laporan riset terbaru para petugas kesehatan Pemprov DKI menyebutkan tingkat pengetahuan remaja Jakarta terhadap penyakit menular berbahaya seperti HIV-AIDS, terbukti masih tergolong rendah. Para petugas kesehatan mengatakan, perkembangan teknologi informasi di ibu kota yang melebihi daerah lain di tanah air tidak terlalu berdampak positif dalam pendistribusiaan informasi mengenai pencegahan HIV-AIDS di kalangan generasi muda.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, hanya sekitar 22 persen remaja antara usia 15-24 tahun yang paham tentang bahaya HIV-AIDS. Data Pemprov DKI menyebutkan, angka kematian pada tahun 2011 mencapai 234 jiwa, sementara angka kumulatif kasus HIV/-IDS di ibu kota sejak 1987 hingga 2011 mencapai 11.205 kasus, lebih 1.000 penderita meniggal dunia. 70 persen korban meninggal merupakan pengguna narkotika dengan jarum suntik. (voa/A-147)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6585