Penyakit Tropik Ancaman Serius Masyarakat Dunia
Tanggal: Sunday, 17 June 2012
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 16 Juni 2012

Banda Aceh - Ketua Umum PB Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infensi Indonesia (Petri), Prof dr Joko Widodo, mengungkapkan, akibat perubahan iklim yang melanda dunia, berbagai penyakit tropik cenderung muncul secara tiba-tiba. Penyakit tropik ini menjadi ancaman serius masyarakat dunia, karena pemanasan global yang terjadi. Tentu ini menjadi permasalahan tersendiri yang dihadapai dunia kesehatan dewasa ini dan perlu dicari bersama solusinya.

"Perubahan iklim memunculkan berbagai penyakit baru dan ini perlu penangganan serius dari pemerintah berupa dana untuk penelitian," Joko Widodo saat memberikan sambutan pada pembukaan Kongres Nasional (Konas) Petri ke XVIII di Banda Aceh, Jumat (15/6).

Sebagai contoh, kata Joko, peningkatan penderita HIV/AIDS hingga Desember 2011 di Indonesia yang sudah sangat memprihatinkan. Hingga Desember 2011 penderitanya di atas 107 ribu kasus, di mana 500-an di antaranya meningal dunia.

Saat ini, daerah paling banyak penderita HIV/AIDS tersebut ialah DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali. Umumnya penderita mendapat penyakit HIV/AIDS akibat hubungan seks dan narkoba. Lebih memprihatikan lagi, ada ribuan ibu rumah tangga yang tertular virus HIV dari suaminya dan ribuan lain anak-anak yang tertular dari ibunya.

Prevalensi tinggi

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Tarmizi A Karim usai saat membuka Konas Petri tersebut juga mengungkapkan, Aceh termasuk daerah dengan prevalensi tertinggi di Indonesia dalam penularan penyakit HIV/AIDS.

Dikatakan, masalah kualitas kesehatan masyarakat termasuk persoalan rumit yang dihadapi Pemerintah Aceh dari tahun ke tahun. rendahnya kualitas kesehatan di wilayah ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain, kualitas hidup kurang baik akibat konflik masa lalu, tingkat pendidikan yang rendah, pelayanan kesehatan yang belum maksimal, dan wawasan tentang kesehatan yang belum baik.

Di sisi lain, Joko menyebutkan untuk menangani persoalan kesehatan tropik saat ini hanya ada 50 dokter spesialis penyakit tropik dan jumlahnya masih kurang jika dilihat persoalam kesehatan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Tarmizi melanjutkan, penyakit diare termasuk yang harus diwaspadai karena merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita di Aceh. Karenanya, Pemprov Aceh terus berusaha melakukan pembenahan di berbagai sektor kesehatan publik.

"Tapi pembenahan tersebut tentu akan sejalan jika diiringi dengan sejumlah penelitian terkait penanganan penyakit tersebut," ujar Tarmizi sambil menambahkan, pihaknya sangat berharap lewat Konas Petri XVIII/2012 ini berbagai penyakit tersebut dapat dicari solusi mengatasinya.

Tarmizi juga meminta Petri mengajarkan pola hidup sehat kepada masyarakat. Ini perlu dilakukan terus supaya masyarakat dapat hidup sehat dan terbebas dari penyakit kawasan tropik seperti malaria, tbc dan HIV/AIDS.

Dikatakan, penyakit tropik memang menjadi tantangan ke depan dan apa yang dilakukan Petri dengan mengadakan Konas XVIII di Banda Aceh merupakan hal yang sangat penting dan berarti, karena, penyakit tropik ini perlu perhatian bersama, sehingga masalah kesehatan penyakit-penyakit tropik dapat ditanggani secara baik.

Ketua Panitia Konas Petri dr Kurnia F Jamil dalam laporannya menyatakan, Konas Petri XVIII ini diadakan selama tiga hari, 14-16 Juni 2012 dengan peserta sekitar 400 orang dari seluruh Indonesia untuk membahas berbagai persoalan penyakit tropik. (irn/mhd)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6603