Mari Tes HIV
Tanggal: Tuesday, 19 June 2012
Topik: HIV/AIDS


Metrotvnews.com, 18 Juni 2012

Stigma terhadap penyakit oleh HIV belum hilang, atau bahkan sulit hilang. Padahal, cara penularannya tidak beda dengan Hepatitis B dan C. Akibat stigma itu orang cenderung malu kalau diketahui terkena infeksi HIV. Sementara mereka tidak merasa malu kalau terinfeksi Hepatitis B atau C. Mereka yang menempatkan stempel “dosa” terhadap HIV masih tetap bertahan, meskipun mereka terkadang juga tahu bahwa penularannya sama dengan Hepatitis B dan C. Tetapi mereka tidak memberi stempel dosa pada infeksi Hepatitis B dan C.

Orang tidak malu berobat ketika dia terkena penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks, seperti sifilis, g.o, dan sebagainya. Tetapi akibat stigma tadi, orang yang terinfeksi HIV cenderung menutup diri dan malu meminta pertolongan dokter, keuali ketika penyakit sudah berkembang menjadi AIDS. Di sisi lain petugas kesehatan juga ikut terpengaruh sehingga cenderung memandang “sinis” kepada pengidap HIV, tetapi tidak demikian terhadap pengidap Hepatitis B atau penyakit menular seksual lainnya.

Stigma yang kejam itu akibatnya juga membuat kebijakan pengendalian infeksi HIV ikut terpengaruh, sehingga serba “mediocre”. Serba canggung dan cenderung munafik. Ada keinginan untuk mengetahui seberapa besar penjalaran HIV, tetapi melarang pengujian (testing) yang lebih “agresif” untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Pengujian “wajib” (mandatory) tidak diperbolehkan karena melanggar HAM, sementara untuk tes Hepatitis B atau C tidak diberikan perlakuan seperti itu. Pendidikan untuk mencegah HIV juga setengah hati karena takut terhadap tekanan kelompok agama.

Sebagaimana diketahui, pemerintah bersikap bahwa tes HIV harus dilakukan secara sukarela dan disertai konseling. Keharusan pemberian konseling ini memang perlu mengingat gambaran infeksi HIV di masyarakat masih menakutkan dan dibebani stigma. Seolah-olah kalau sudah terinfeksi HIV maka kematian akan segera datang, dan ia akan dikucilkan oleh keluarga atau masyarakat sekitarnya karena ditakutkan akan menular.

Tes secara wajib (mandatory testing) dilarang. Menjadi pertanyaan, bolehkah calon anggota militer (dan polisi) dilakukan tes HIV seperti juga mereka dites untuk Hepatitis B dan C, serta tes untuk sifilis? Kalangan penggiat HIV masih menolak hal seperti itu, tetapi jika ada anggota militer baru di kemudian hari, setelah aktif bertugas, diketahui terinfeksi HIV, negara yang akan rugi. Dan tidak sedikit. Pertama, beban anggaran untuk mengobati ketika infeksinya makin menjadi parah. Kedua, kalau mereka meninggal akibat AIDS di usia yang relatif muda, akan mahal untuk menggantinya karena penggantinya juga memerlukan pelatihan yang diperlukan. Belum lagi perlemahan terhadap mesin pertahanan negara. Masalah-masalah ini perlu keputusan yang berani.

Perkembangan ilmu pengobatan HIV sudah banyak terjadi dan pendekatan penggunaan obat anti retrovirus (ARV) sudah lebih maju dibanding sepuluh tahun yang lalu. Sekarang muncul teori bahwa pemberian obat ARV tidak perlu menunggu menurunnya kadar CD4 (indicator seberapa jauh infeksi HIV sudah terjadi) sampai titik yang rendah. Sudah muncul pendapat bahwa ARV dapat diberikan sedini mungkin, sehingga mencegah “keganasan” virus HIV untuk mudah menular ke orang lain. Dengan demikian semakin cepat adanya infeksi HIV diketahui, semakin baik prognosis kalau segera diobati.

Untuk mendeteksi lebih cepat adanya infeksi HIV, satu-satunya jalan adalah dilakukan tes darah. Tetapi karena mandatory testing tidak diperbolehkan, maka cara yang terbaik adalah mendorong agar orang mau secara sukarela dan atas inisiatif sendiri melakukan pemeriksaan darah untuk HIV. Harus dilakukan desensitisasi dan destigmatisasi tes HIV supaya orang tidak perlu malu datang ke laboratorium atau dokter dan meminta apakah dirinya terinfeksi HIV atau tidak, seperti kalau ia meminta apakah ia terifeksi Hepatitis B atau tidak.

Tes untuk mengetahui adanya infeksi HIV harus dianggap sebagai hal yang wajar. Barulah kita akan dapat mengendalikan penyebaran penyakit ini secara lebih baik. Pertama, karena data yang diperoleh akan lebih akurat. Kedua, pemberian obat sedini mungkin dapat dilakukan sehingga menekan potensi penularan serta penundaan terjadinya AIDS selama mungkin.

Sumber: http://www.metrotvnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6612