13 Ribu Warga Siantar Terancam Terjangkit AIDS
Tanggal: Tuesday, 19 June 2012
Topik: Narkoba


TRIBUNNEWS.COM, 19 Juni 2012

PEMATANGSIANTAR - DPRD Pematangsiantar didesak agar segera mengesahkan Ranperda Human Immune Defecieny Virus Dan Acquired Immune Defesiency Syndrom serta Infeksi Menular Seksual ( HIV/AIDS dan IMS). Pasalnya, 13 ribu warga Siantar sedang terancam ditulari penyakit mematikan itu.

Desakan dilontarkan Agus Marpaung, Ketua LSM Community Based Rehabilitation ( CBR) Foundation melalui pesan elektronik, Senin (18/6/2012). Dikatakannya, kasus HIV-AIDS di Pematangsiantar, semakin banyak ditemukan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara pada bulan April 2012 saja, di Siantar terdapat 130 Kasus HIV/AIDS , terdiri dari 33 kasus HIV dan 97 kasus AIDS. Sedangkan, tahun 2009 terdapat 107 kasus AIDS yakni 27 kasus HIV dan 80 kasus AIDS.

Sesuai dengan ketetapan WHO ( Wold Health Organisation) yang menyatakan jika ada 1 kasus HIV/AIDS yang ditemukan maka sebanyak 100 orang telah terinfeksi HIV-AIDS, dengan ditemukannya 130 kasus HIV-AIDS menggambarkan 13.000 penderita HIV-AIDS yang belum ditemukan. Dilanjutkan, berdasarkan layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) RSUD Dr Djasamen Saragih, hingga tahun 2012 terdapat 178 kasus HIV-AIDS yang telah ditemukan, dimana 130 orang adalah warga Siantar dan 48 orang berasal dari luar kota.

"Hal ini disampaikan oleh Dr. Robby (Koordinator VCT-RSUD Dr. Jasamen Saragih) pada rapat Layanan Kesehatan pada tanggal 14 juni 2012 yang dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Pematangsiantar,"katanya.

Untuk kasus Infeksi Menular Seksual( IMS) sesuai laporan Layanan Puskesmas Tomuan sejak Bulan Januari 2012 hingga Mei 2012 telah memeriksakan sebanyak 88 orang yang terdiri dari 82 orang laki-laki dan 6 orang perempuan). Dari data tersebut didapat: Sifilis sebanyak 9 orang, Gonore ( kencing nanah): 18 orang, Susfek GO 4 orang, Servisitis atau proctitis 1 orang, Urethritis non GO 10 orang, Herfes Genital 3 orang, dan Kandidiasis 2 orang.

"IMS adalah pintu gerbang masuknya Virus HIV ke dalam tubuh manusia. Maka semakin tinggi kasus IMS maka semakin tinggi resiko seseorang untuk tertular Virus HIV,"ujarnya.

Melihat permasalahan HIV-AIDS ini Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Pematangsiantar bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat bersama LSM Peduli AIDS seperti CBR Foundation, PIKIR-PKPA, Jarkon, dan Simalungun Support telah mengusulkan naskah akademik dan Ranperda tentang Human Immune Defecieny Virus Dan Acquired Immune Defesiency Sydrom serta Infeksi Menular Seksual ( HIV/AIDS dan IMS).

Dan 15 Juni 2012 telah diadakan Rapat Komisi I DPRD yang dihadiri oleh 6 orang anggota Komisi I Rudolf Hutabarat, Rudy Wu, Rudel Sipayung, Dr Maruahal Sinaga dan tim ahli DPRD dengan Bagian Hukum dan Perundang-undangan Pemko , Dinas Kesehatan , Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kota Pematangsiantar, CBR Foundation, PIKIR-PKPA.

Dalam rapat DPRD memberi catatan penting yang harus diperbaiki terutama pada naskah akademik yakni sistematika agar mempedomani Lampiran 1 UU RI No. 12 tahun 2011, praktek empiris agar diperluas penjelasannya, landasan filosofis, sosiologis dan yuridis nya lebih disempurnakan, data yang terinfeksi HIV-AIDS dengan sumber data. "Komisi I berjanji akan melakukan rapat lanjutan Selasa (19/6/2012),"katanya.

Lebih lanjut Agus meminta agar DPRD segera Menetapkan Ranperda itu menjadi Perda dengan harapan bisa menekan dan menanggulangi laju pertumbuhan Kasus HIV-AIDS dan IMS.

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6614