Sosialisasi HIV Minim di Kalangan Kaum Muda
Tanggal: Tuesday, 26 June 2012
Topik: HIV/AIDS


INILAH.COM, 19 Juni 2012

Jakarta - Usia muda sampai usia tua mampu mengambil peran dalam memerangi dan mencegah AIDS. Apalagi remaja yang memiliki sifat keingintahuan tinggi akan sesuatu dan berani berbuat.

Sebagai remaja, peran serta itu sangat dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sosialisasi mengenai penyakit HIV/AIDS baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, dr. Ratna Rosita MPHM megatakan Populasi penduduk Indonesia usia 15-24 tahun sekitar 30%. Sementara kelompok usia 20-29 yang menderita AIDS sebesar 30,2%. Jadi, dapat diperkirakan bahwa masa terinfeksi virus HIV/AIDS terjadi pada usia 15.

“Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan hanya 11,4% penduduk umur 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan yang benar komprehensif tentang HIV/AIDS," kata dr Ratna, dalam rilisnya yang diterima INILAH.COM, beberapa waktu lalu.

Melihat fakta ini, sambung dr Ratna pastilah tidak mudah menekan kasus infeksi HIV baru di antara kaum muda usia 15-24, jika mereka tidak tahu apa itu HIV/AIDS dan bagaimana cara membentengi dirinya agar tidak terinfeksi HIV/AIDS.

Menurut Rita, perlu diketahui bahwa sifat virus HIV membutuhkan waktu 5-10 untuk membuat para pengidap HIV menjadi kondisi AIDS.

“Ini berarti ada sejumlah besar remaja pengidap HIV yang tidak diketahui berada di antara masyarakat dan terlihat normal seperti orang sehat lainnya”, jelas Ratna.

Lebih lanjut dr Rosita menyatakan, pada 2011 Kementerian Kesehatan melakukan advokasi dan koordinasi dengan lintas kementerian di bawah Menkokesra, serta adanya komitmen dari 10 gubernur, 100 bupati dan walikota untuk bersama-sama melaksanakan kampanye yang disebut Kampanye Pencegahan HIV-AIDS “Aku Bangga Aku Tahu” bagi kaum muda usia 15-24.

“Kampanye akan dilaksanakan mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 secara massal, terintegrasi dan berkelanjutan dengan lintas sektor terkait”, ungkap dr Ratna.

Tahap pelaksanaan kampanye “Aku Bangga Aku Tahu” meliputi 10 Provinsi dan 10 Kabupaten/Kota di tahun 2012; dilanjutkan dengan 13 Provinsi di tahun 2013; dan 10 Provinsi di tahun 2014. Kampanye pencegahan HIV-AIDS juga mendapat dukungan dari Global Fund dan perusahaan Glaxo Smith Klein (GSK) dalam bentuk pembinaan di lapangan.

Provinsi DKI Jakarta merupakan role model orientasi fasilitator yang akan diikuti oleh sembilan Provinsi berikutnya.

"Diharapkan para fasilitator yang akan melakukan pembinaan/penyuluhan dapat melaksanakan dengan penuh tangung jawab dan dapat menjadi motivator yang berdedikasi bagi para generasi muda," urai dr Ratna. [mor]

Sumber: http://gayahidup.inilah.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6617