Surabaya-Malang Zona Merah HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 26 June 2012
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 22 Juni 2012

SURABAYA - Jumlah penderita HIV/AIDS yang ada di Jawa Timur dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Data kumulatif yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur dari tahun 2005 hingga Maret 2012 ada 142.706 orang yang melakukan tes HIV/AIDS dan sebanyak 9,3 persen atau 13.275 orang yang terdeteksi HIV/AIDS positif.

Kota di Jawa Timur yang paling banyak penderita HIV/AIDS positif yaitu Surabaya dan Malang, dua kota tersebut sudah menunjukkan nilai merah. Nilai merah itu adalah kabupaten/kota yang angkanya lebih dari 1.000 orang terinfeksi HIV/AIDS positif. Sementara yang mulai banyak penderita HIV/AIDS yaitu berkisar antara 500-1.000 orang adalah Sidoarjo, Pasuruan, Kabupaten Malang, Jember, dan Banyuwangi.

Sementara data dari RSU dr Soetomo yang diungkapkan oleh dr Erwin Astha Triono SpPD, KPPI FINASIM selaku Kepala Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) mengungkapkan jumlah kumulatif pasien HIV/AIDS yang pernah masuk perawatan mulai tahun 2004 sampai akhir bulan Mei 2012 yaitu 4.850 pasien. “Dari 4.850 pasien tersebut tidak semuanya kembali untuk perawatan ke sini, ada yang malu, ada yang pindah ke rumah sakit lain dan ada pula yang meninggal,” ujarnya

Ketika disinggung mengenai jumlah pasien HIV/AIDS yang terus meningkat dr Erwin mengaku cukup bangga jika Jawa Timur angka penemuan kasus HIV/AIDS mengalahkan DKI Jakarta. “Yang saya maksudkan jika pasien HIV Jawa Timur harus bisa mengalahkan DKI yaitu masalah penemuan kasusnya. Jika sudah ketemu langsung kita intervensi medis dan perilaku, karena fenomena HIV/AIDS ini seperti gunung es, yang ditemukan masih puncaknya saja sementara yang lainnya masih tersembunyi dengan beragam alasan,” ujarnya.

Selanjutnya untuk masalah penemuan kasus ini harus dikembalikan lagi kepada para pengambil kebijakan, yaitu Gubernur, Walikota dan anggota DPRD bahwa jika angka penemuan kasus di Jawa Timur makin banyak adalah makin bagus. “Tidak boleh ada stigma jika angka kasus HIV makin banyak berarti orang Jawa Timur itu makin brengsek karena berarti suka melakukan seks bebas dan narkoba,” tuturnya.

Mungkin dari aspek sosial masyarakat berpendapat jika penemuan kasus banyak berarti orang tersebut berprilaku negatif, sedangkan dari aspek medis tidak ada cara lain selain menemukannya. “Bayangkan saja jika kasus banyak andaikan kepala daerah marah ya kita buat saja 0 pasti seneng, jika ada orang meninggal HIV/AIDS kita ganti jadi pneunomoni (penyakit paru-paru) pasti senang kepala daerah, tapi itu tidak menyelesaikan masalah karena akan menjadi bom waktu 5 tahun kemudian karena orang akan acuh dan menganggap biasa jika terjadi kasus HIV,” ungkapnya

Prinsipnya jika orang kesehatan banyak menemukan kasus harus diberikan apresiasi bagus jangan malah dimarahi. Karena dengan mengetahui sejak dini mengidap HIV/AIDS maka akan bisa dengan mudah untuk memantau, mengendalikan dan mencegah penularannya.m13

Sumberhttp://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6630