Respirator Kurang, 20% ODHA Meninggal
Tanggal: Tuesday, 26 June 2012
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 23 Juni 2012

SURABAYA - Dengan status rumah sakit Tipe A milik Provinsi, RSU dr Soetomo tidak boleh menolak pasien. Dengan kunjungan pasien rata-rata 300 per hari, di Instalasi Rawat Darurat (IRD) masih kurang alat respirator (alat bantu pernapasan) untuk membantu operasi.

Saat ini dengan kurangnya jumlah respirator yang ada di IRD mengakibatkan sering terlantarnya penanganan pasien yang kondisinya kritis. Dampak kurangnya respirator di RSU dr Soetomo diungkapkan oleh dr Erwin Astha Triono SpPD, KPPI FINASIM selaku Kepala Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) mengatakan jika pasien HIV/AIDS atau ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) sebanyak 20 persen yang meninggal dunia dari total pasien yang dirawat.

“Kita bisa menekan jumlah pasien HIV/AIDS yang meninggal tapi respiratornya kurang, kalau ada respirator yang cukup kan kita bisa mengurangi angka kematian pasien HIV/AIDS yang sudah stadium lanjut tersebut,” ujar Erwin, Jumat (22/6).

Saat ini respirator yang ada di IRD dr Soetomo ada 19 alat dengan rincian 13 alat berada di Ruang Observasi Intensif (ROI), 3 di Ruang Resusitasi dan 3 lagi di Ruang Neonatal Intensif Care Unit (NICU).

“Jumlah tersebut dirasakan masih kurang jika dibandingkan jumlah pasien yang ada di RSU dr Soetomo,” ujar dr. Urip Murtedjo Sp.B KL, Kepala IRD RSU dr Soetomo. Padahal jumlah normal respirator yang dibutuhkan oleh IRD dr Soetomo minimal 27 unit, berarti kurang 8 unit.

“Di ROI ada 20 bed dan hanya 13 yang ada respiratornya, seharusnya semua bed dilengkapi dengan respirator jadi kurang 7 unit untuk bed yang ada di ROI dan satu untuk cadangan,” ungkapnya.

Tahun ini, ungkapnya, rencananya Pemprov Jatim akan menambahkan 4 unit respirator lagi di IRD. “Berdasarkan hasil dialog dengan pihak provinsi maka tahun 2012 ini akan ditambahkan 4 unit respirator lagi. Penambahan tersebut disesuaikan dengan dana APBD karena 1 unit respirator harganya hampir Rp 800 juta kalau beli 4 sudah menghabiskan biaya Rp 3,2 miliar, sedangkan kekurangan 4 unit sisanya kemungkinan akan ditambahkan di tahun 2013,” ujarnya.

“Untuk kepastian kedatangan tambahan 4 unit respirator tersebut saya tidak tahu, karena tergantung panitia pengadaan, yang pasti akan datang di tahun 2012 ini. Untuk sementara alat yang ada dioptimalkan dulu sambil menunggu kedatangan respirator baru,” ungkapnya.

Urip membandingkan dengan Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) yang mempunyai 20 kamar operasi dan memiliki 15 respirator di Intensive Care Unit (ICU) dan 1 respirator di NICU. “Kalau yang di GBPT respirator yang ada dirasakan sudah cukup karena di GBPT hanya melakukan operasi elective (terencana) sedangkan operasi yang terjadi di IRD adalah operasi emergency. Jadi wajar jika IRD membutuhkan 8 respirator tambahan karena sifat IRD yang emergency,” ucapnya.m13

Sumber
: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6634