Generasi Muda Butuh Perlindungan Khusus Dari Risiko HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 28 June 2012
Topik: HIV/AIDS


InfoPublik, 27 Juni 2012

Jakarta - Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyambut baik itikad Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan perhatian dan dukungan terhadap upaya perlindungan generasi muda dari risiko HIV dan AIDS.

Pejabat Sekretaris KPAN Kemal N. Siregar, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (27/6) menyampaikan, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan hingga akhir triwulan I tahun 2012, tercatat telah dilaporkan sebanyak 5.991 kasus infeksi HIV baru. Sedangkan jumlah kumulatif kasus infeksi HIV yang terlaporkan sejak 1987 sampai dengan Maret 2012 adalah sebanyak 82.870 kasus.

"Dari kasus terlapor, faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman dan penggunaan alat suntik tidak steril saat memakai narkoba jenis suntikan," ungkapnya.

Selain itu, pada Triwulan I Tahun 2012 dilaporkan pula kasus baru AIDS sebanyak 551 kasus. Sedangkan jumlah kumulatif kasus AIDS sejak tahun 1987 sampai dengan Maret 2012 adalah sebanyak 30.430 kasus. Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi ditemukan pada rentang usia 20-29 tahun yaitu 46 persen. Karena AIDS baru menunjukkan gejala di masa 3 sampai 10 tahun setelah infeksi, maka diperkirakan infeksi HIV melalui perilaku berisiko telah terjadi pada usia di bawah 20-29 tahun atau pada masa remaja.

Sementara, hasil survei dan penelitian HIV berdasarkan usia di antara penduduk yang paling berisiko tertular HIV yang dilakukan oleh KPAN dan UNICEF tahun 2011, menyimpulkan bahwa hampir semua responden memulai perilaku berisiko di bawah usia 25 tahun (93 persen LSL - Lelaki Seks dengan Lelaki, 83 persen Penasun, 83 persen Waria, dan 53 persen WPS - Wanita Pekerja Seks).

Menurutnya, hasil kajian tersebut juga menemukan bahwa tingkat penggunaan kondom konsisten pada populasi paling berisiko yang muda usianya (<25 tahun) lebih rendah dibanding rekan-rekannya yang lebih tua (>25 tahun).

"Mempertimbangkan data-data tersebut, KPAN meyakini bahwa upaya perlindungan remaja dari HIV dan AIDS khususnya pada populasi remaja dengan risiko tinggi, merupakan salah satu upaya penting yang perlu dilakukan untuk melindungi masa depan bangsa," katanya.

Ia juga menjelaskan, untuk dapat melindungi diri dari risiko HIV dan AIDS baik di kalangan remaja pada umumnya dan di kalangan remaja dengan risiko tinggi pada khususnya, mereka membutuhkan pengetahuan yang benar mengenai HIV dan AIDS, cara-cara penularan dan pencegahannya, serta informasi mengenai layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan yang dibutuhkan.

"KPAN tentunya sangat mendukung adanya pendidikan mengenai HIV dan AIDS secara utuh dan komprehensif, baik ditujukan bagi remaja pada umumnya maupun remaja dengan risiko tinggi pada khususnya," ujarnya

Selain itu, KPAN juga mendukung pentingnya pendidikan kekuatan iman dan ketahanan mental baik remaja, agar remaja dapat didukung untuk menjauhi perilaku berisiko terinfeksi HIV.

"Alangkah baik apabila semua remaja dapat menunda hubungan seks sampai tiba saatnya mereka menikah, dimampukan untuk mengenal pasangannya dengan baik dan dapat bersikap saling setia pada satu pasangan," imbaunya.

Akan tetapi pada kenyataannya akan selalu terdapat remaja yang memilih untuk berperilaku berisiko. Oleh karena itu menurutnya, remaja tetap membutuhkan dukungan akses terhadap layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan untuk melindungi diri mereka dari risiko infeksi HIV. "Menunda akses terhadap layanan yang mereka butuhkan tanpa kemampuan efektif untuk menghentikan perilaku risiko di kalangan remaja dapat mendorong percepatan penyebaran infeksi HIV di kalangan remaja dan masyarakat sekitar mereka," tutup Kemal.(rm)

Sumber: http://www.bipnewsroom.info




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6660