Informasi Kesehatan Reproduksi dari Orang Tua Minim
Tanggal: Thursday, 28 June 2012
Topik: Narkoba


Media Indonesia, 27 Juni 2012

LOMBOK TIMUR: Diperlukan kerja keras untuk meningkatkan akses informasi remaja terhadap kesehatan reproduksi. Saat ini, informasi yang diterima remaja dari orang tua dan guru hanya 11%, selebihnya lagi diperoleh dari sesama remaja.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sudibyo Alimeoso mengatakan, rendahnya informasi yang diperoleh remaja dari orang tua karena adanya kesenjangan komunikasi di antara mereka.

"Orang tua cenderung berburuk sangka jika anak remaja mereka bertanya lebih detil tentang alat kontrasepsi dan HIV/AIDS," katanya dalam acara GenRe Goes to School di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (27/6).

Akibatnya, kesenjangan komunikasi itulah remaja mencari informasi seputar itu kepada teman sebaya mereka. "Kalau teman curhat mereka bagus, informasi yang diperoleh bagus. Tetapi kalau teman senang coba-coba, itu bahaya," katanya.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan remaja tentang informasi itu, kini telah dibentuk lebih dari 1.400 Pusat informasi dan Konseling Remaja (PIKR) di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan 400 perguruan tinggi.

Tenaga konseling di setiap PIKR dilatih oleh BKKBN. Mereka baru diperbolehkan menjadi konselor setelah betul-betul mampu memberikan informasi yang benar kepada teman sebayanya.

GenRe Goes to School di SMAN 1 Pringgasela diikuti ratusan siswa dari sejumlah SMA lain. Acara dihadiri Sekretaris Utama BKKBN Subagyo dan Aktivis HIV/AIDS Baby Jim Aditya. (Pbu/OL-9)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6665