Donar Darah untuk Deteksi Penderita HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 02 July 2012
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 28 Juni 2012

SOLO - Donor darah bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi penderita HIV/AIDS. Namun belum ada mekanisme untuk menindaklanjuti hal ini. Dengan teridentifikasinya penderita, dapat dimanfaatkan untuk menekan penyebaran penyakit.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih, dalam pembukaan Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jateng, dengan KPA dan Warga Peduli AIDS di 35 kabupaten/kota di Pendapi Gedhe, Balai Kota Solo, Kamis (28/6/2012) ini.

Di salah satu kabupaten, dari proses penyaringan darah donor oleh PMI setempat, didapati ada 180 pendonor yang darahnya terinfeksi HIV/AIDS. Namun data penderita di HIV/AI DS di kabupaten itu hanya 15 orang. Berarti ada 165 orang yang tidak tahu dirinya menderita.

"Belum lagi terhadap orang yang tidak suka mendonorkan darah, lebih sulit lagi mendeteksinya," kata Rustriningsih.

Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak Jawa Tengah, Agnes Widanti, mengungkapkan, di Thailand diterapkan kebijakan mengambil sampel darah penduduknya yang berobat di rumah sakit.

Ini dimungkinkan, karena semua penduduk mendapat jaminan kesehatan dari negara. Kebijakan mengambil darah ini disetujui oleh Badan Kesehatan PBB (WHO).

Dengan kebijakan ini bisa diketahui pasti siapa saja penderita HIV/AIDS, sehingga penyebarannya bisa ditekan. "Tetapi memang beda hukum dan kultur, beda pula penanganannya," kata Agnes.

Beberapa tahun terakhir ini, terjadi pergeseran profil penderita HIV/AIDS. Ibu rumah tangga menempati porsi terbesar penderita.

Asisten Deputi KPA Nasional, Wenita Indrasari, mengatakan, data tahun 2011 menyebutkan, jumlah penderita AIDS terbesar adalah ibu rumah tangga sebanyak 622 orang, menyusul karyawan (587 orang), wiraswasta (544), buruh (251), petani (273), dan pekerja seksual (140).

"Sebanyak 90 persen perempuan terkena HIV, karena tertular suami atau pacarnya, baik yang multipartner seks maupun pengguna narkoba suntik," kata Wenita.

Agnes Widanti mengatakan, selama ini asumsi pemerintah, negara donor, akademisi, dan masyarakat kelompok tertentu, seperti wanita pekerja seksual, pengguna narkoba suntik, dan waria, sebagai penyebar utama HIV/AIDS.

Padahal, sebenarnya yang paling berpengaruh adalah laki-laki pembeli seks yang diperkirakan jumlahnya pada tahun 2009 sebanyak 3,2 juta orang. Sebanyak 1,6 juta perempuan menikah dengan lelaki yang terinfeksi HIV, dan beresiko melahirkan anak yang terinfeksi HIV.

Untuk itu, tambah Agnes, kelompok pembeli seks perlu mendapat program dan penanganan khusus agar tidak menularkan HIV/AIDS kepada istri dan anak-anaknya. Budaya konstruksi masyarakat yang relatif permisif terhadap sikap laki-laki yang berganti pasangan, juga harus diubah.

"Perlu ada penanganan berbeda, bukan hanya preventif tetapi juga kuratif," kata Agnes.

Sumber: http://regional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6669