Siang Aktivis HIV/AIDS, Malam Narik Becak
Tanggal: Monday, 02 July 2012
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 02 Juli 2012

Berprofesi sebagai mengayuh becak tapi punya visi dan misi hidup mulia. Itu dilakoni Totok Yudianto, 45. Dia mampu menjadi pengayom bagi rekan-rekan seprofesinya untuk menghindari kehidupan yang menyimpang tertutama narkoba dan seks bebas. Dia tak segan terjun dalam kegiatan penanggulangan HIV/ADIS bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIJ. Bahana, Jogja

Penampilannya tidak jauh berbeda dengan tukang becak lainnya. Sederhana dan seadaanya. Yang menjadi khas Totok adanya peci bermotif dan kacamata minus yang selalu dia kenakan. Namun bila ditanya persoalan yang menghinggapi para tukang becak, alur bicara Totok begitu lancar layaknya air terjun yang meluncur jatuh dari tebing. Sejak 2009, dia aktif menjadi anggota KPA DIJ.

Dengan latar belakang profesinya, Totok dipercarya menjadi petugas penjangkau. Itu bukan kerja ringan. Selain melakukan penyuluhan tentang bahaya HIV/AIDS terhadap tukang becak, dia juga mempunyai tugas agar mereka yang sudah positf mengidap HIV/AIDS mau untuk masuk layanan pengobatan. Bukan perkara mudah memang. Mengingat penyakit tersebut masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Pertimbangan takut dikucilkan menjadi suatu alasan mengapa para tukang becak enggan mengungkapkan apa yang dialami kepadanya. ”Memang tidak semua tukang becak menggunakan narkoba dan berperilaku free sex (seks bebas). Tapi sebagai manusia, terkadang ada sebagian tukang becak berperilaku seperti itu,” terang warga Kadipaten ini. Totok lebih suka menggunakan kata ”jajan” dalam menjelaskan perilaku berganti-ganti pasangan seksual yang dilakukan sesama rekan seprofesinya. Karena selama ini, dari pemantauan Totok, perilaku negatif itu biasa dilakukan para tukang becak dengan datang ke tempat-tempat lokalisasi.

Lebih jauh, laki-laki yang juga memangku jabatan sebagai ketua Asosiasi Paguyuban Becak Jogjakarta (Aspabeta) ini menuturkan, perilaku negative yang dilakukan para penarik becak ini bermula dari perilaku mereka yang gemar minum-minuman keras. Awalnya sekadar meminum miras. Lantas, mereka ingin mencoba ke tingkat yang lebih tinggi dengan mencoba narkoba. ”Dari narkoba akhirnya ada yang suka ’jajan’,” terang tamatan D3 ini. Diungkapkan lebih lanjut, ada sebagian tukang becak yang berpenghasilan lebih. Terutama mereka yang biasa mangkal di hotek-hotel berbintang. Dari penghasilan berlebih ini, ujar Totok, terkadang mereka tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Mereka memilih menggunakan uang untuk kesenangannya sendiri. ”Kalau bukan kami-kami, siapa lagi yang bisa mengembalikan mereka,” imbuh Totok.

Dari penjangkauan Totok terhadap para pengemudi becak, setidaknya saat ini sudah ada enam tukang becak yang masuk pelayanan dan penanganan. ”Mereka ini dalam pemantauan kami di KPA. Rata-rata dari mereka memang menderita HIV/AIDS. Bahkan ada beberapa yang sudah meninggal,” ujarnya.

Totok mengaku penghasilannya sebagai tukang becak terbatas. Namun, dia menegaskan kondisi itu membuatnya mengeluh sebagian waktunya disita untuk menjalani kegiatan kemanusian. Justru, ujarnya, motivasi member manfaat kepada sesame ini menjadi salah satu pendorongnya menekuni profesi penarik angkutan umum beroda tiga tersebut. Sebelum 1994, Totok menceritakan, pernah bekerja di berbagai tempat. Dia pernah bekerja sebagai orang kantoran. Dia juga kerja di lapangan.

”Sebelum di KPA saya cuma bisa mengingatkan saja setiap ada rekan yang akan coba-coba hal yang dapat merugikan,” terangnya. Setelah aktif menjadi petugas KPA, Totok memutuskan hanya menarik becaknya pada malam hari. Karena keluarga butuh makan serta membiayai sekolah anaknya, tak jarang dia menarik becak sampai pagi. Sebagai penarik becak yang pendapatannya tidak pasti, Totok menyiasati manajemen keuangan dengan perilaku menabung dan arisan di antara sesama tukang becak. Harapannya, dari tabungan ini segala kebutuhan keluarga yang bersifat mendesak bisa terpenuhi.

”Kalau pendapatan per hari Rp 25 ribu mungkin bisa disimpan Rp 5 ribu,” ujarnya. Totok juga mengusulkan kepada setiap paguyuban agar memiliki kotak tabungan. Kotak itu dapat diisi para anggota dengan sukarela setiap saat. ”Dengan uang tersebut bisa digunakan untuk membantu rekan yang sakit,” ujarnya.

Cara ini sudah diterapkan paguyuban penarik becak yang biasa mangkal di kawasan Pasar Beringharjo Jogja ini. Totok berharap dari kegiatannya aktif di KPA ini nantinya membuat rekan-rekannya bergabung aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS. ”Minimal dapat memberikan pemahaman tentang bahaya penyakit yang belum ada obatnya ini,” tandasnya penuh harap. (*/amd)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6682