Pedagang Sayur Dimanfaatkan Jadi Outlet Kondom
Tanggal: Monday, 02 July 2012
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 02 Juli 2012

KEDIRI - Berbagai cara dilakukan Komisi Pemberantasan Aids Daerah (KPAD) kabupaten Kediri, sebagai upaya menekan jumlah pengidap virus mematikan, HIV/AIDS. Salah satunya adalah upaya mendistribusikan kondom ke sejumlah hotel, tempat hiburan dan eks kompleks pelacuran. Terakhir, PKAD Kabupaten Kediri memanfaatkan pedagang sayur keliling yang ditunjuk sebagai outlet distribusi kondom.

Penunjukan pedagang sayur keliling sebagai outlet atau sebagai distribusi kondom, kata Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri, Nur Munawaroh, bermula dari temuan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mitra KPAD, bahwa di areal Wisata Gunung Kelud selama ini dinilai sulit untuk mendapatkan kondom. Padahal di lokasi tersebut kondom menjadi salah satu barang yang banyak dicari oleh pengunjung.

Dari temuan itu, muncul ide dengan cara distribusi melalui seorang pedagang sayur keliling yang sekaligus dijadikan outlet. “Karena, pedagang ini dinilai banyak bersentuhan dengan masayarakat dan selalu berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Mudah-mudahan usaha ini berhasil,” jelasnya, Minggu (1/7).

Dalam pembentukan outlet distribusi kondom, katanya, KPAD Kabupaten Kediri juga mendapatkan target dari Komisi Pemberantasan AIDS Nasional (KPAN). Karena itu, pembentukan outlet terus digencarkan. Saat ini di Kabupaten Kediri telah berdiri sebanyak 188 outlet distribusi kondom. Sebagian besar lokasinya di sejumlah eks lokalisasi, kafe, pangkalan ojek, di tempat hiburan malam dan lainnya.

Dalam operasionalnya, kondom diberikan secara gratis kepada outlet yang dibentuk atau ditunjuk. Namun kepada masyarakat, kondom diperbolehkan untuk dijual dengan harga maksimal Rp 500 per biji. Dana yang terkumpul di outlet tidak wajib dikembalikan ke KPAD namun agar dikelola secara mandiri oleh outlet yang bersangkutan.

“Nanun juga jangan dihabiskan atau dipakai untuk kepentingan pribadi. Karena, jika nanti KPAD atau KPAN tidak memberikan distribusi kondom secara gratis lagi, diharapkan dana yang tadinya terkumpul lewat penjualan kondom, bisa dijadikan modal membeli kondom secara mandiri. Kalau memang ada untung, itu hak outlet,” tutur wanita kelahiran Gresik ini.

Sekadar diketahui, sejak ditemukan pertama kali virus HIV/AIDS pada 1996, di Kabupaten Kediri kini sudah terdapat sebanyak 354 pengidap HIV/Aids. Dari jumlah tersebut 30 persen di antaranya meninggal dunia. Sementara data yang dirilis pada Februari 2012, pengidap HIV/AIDS sebanyak 302 penderita, 102 orang diantaranya meninggal dunia. Jika dibandingkan lima bulan lalu, pengidap meningkat sebanyak 52 orang. Penderitanya bukan saja eks PSK tapi juga ibu rumah tangga dan anak-anak. gim

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6683