Tak Mau Ketularan AIDS kan? Begini Mendeteksi Gejalanya
Tanggal: Tuesday, 03 July 2012
Topik: Narkoba


TRIBUNNEWS.COM, 02 Juli 2012

JAKARTA - Penggalakan pencegahan dan pemeriksaan kasus HIV perlu dilakukan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia.

Diagnosis dini seperti memperbanyak layanan testing HIV, tersedianya Provider Initiative Testing and Counseling (PITC) serta tes untuk pengguna narkoba suntikan pasangan seksual, IMS, TBC, ibu hamil, anak yang lahir dari ibu HIV positif merupakan langkah penting untuk memperkecil risiko infeksi penyakit ini.

WHO menargetkan pada tahun 2015 dapat menurunkan infeksi baru HIV pada laki-laki dan perempuan muda 50%, menurunkan infeksi baru HIV pada bayi dan anak 90% serta menurunkan angka kematian terkait HIV 50%.

"Dari 350 ribu orang Indonesia yang diduga menderita HIV, saat ini baru 70 ribu yang telah melakukan tes. Sedangkan 280 ribu lainnya belum. Perlu usaha untuk pengetesan dengan menyediakan sarana pemeriksaan yang mudah dilakukan, mudah diakses serta terjangkau, " papar Prof. Dr dr Samsuridjal Djauzi,SpPD. K-AI,FINASIM,FACP pada Press Conference yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) dan PT. Medquest , akhir pekan lalu.

Di lain pihak, ketersediaan alat pemeriksaan diagnostik di RS dan laboratorium pemerintah sangat signifikan terutama di daerah-daerah dengan angka penderita HIV yang tinggi. Upaya-upaya edukasi yang kontinyu juga perlu dilakukan mengenai pencegahan dan terapi HIV mengingat pencegahan merupakan komponen terpenting dalam memutus rantai penyebaran penyakit ini.

"Pemeriksaan diagnostik terhadap HIV/AIDS kini memfokuskan pemeriksaan terhadap tes serologi HIV, CD4 dan viral load. CD4 merupakan sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit," paparnya.

CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi penanda yang sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 410-1500.

Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). "Pemeriksaan CD4 sangat berguna untuk membandingkan kemajuan dalam pemeriksaan HIV, sebelum dan sesudah pengobatan. Hal ini bisanya dilakukan secara teratur tiap 3 bulan sekali.Namun sayangnya pemeriksaan CD 4 masih terbatas di kota-kota besar. Diperlukan suatu teknologi yang tepat guna, sederhana tetapi akurasinya tinggi. Dalam beberapa waktu terakhir ini, alat ini sudah tersedia di kota-kota besar," lanjutnya.

Dengan cepat terdeteksinya penurunan jumlah CD4, maka tindakan pemeriksaan lebih lanjut (viral load) pun dapat segera dilakukan, sehingga dapat segera dilakukan penanganan yang akan meningkatkan harapan hidup ODH.

"Jika terdeteksi positif, maka penderita dapat segera diobati dengan pengobatan Antiretroviral (ARV) yang dapat mengurangi transmisi penyakit ini. Pada tahun ini, kami berharap dapat melakukan pemeriksaan ARV kepada lima juta orang sehingga dapat meningkatkan deteksi kasus dan melakukan pengobatan ARV. Pengobatan ARV bermanfaat untuk orang dengan HIV namun juga bermanfaat untuk menurunkan risiko penularan pada orang lain " jelasnya.

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6685