Kemenkes Larang Obat Antiretroviral d4T
Tanggal: Thursday, 12 July 2012
Topik: Narkoba


Media Indonesia, 10 Juli 2012

JAKARTA: Kementerian Kesehatan kembali menginstruksikan agar obat antiretroviral (ARV) jenis d4T jangan lagi diresepkan bagi pengidap HIV. Dari temuan di lapangan penggunaan d4T yang berulang, dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh pasien.

"Sejak tahun lalu Kemenkes sudah menghimbau agar d4T ini diganti dengan obat lain yang lebih aman," ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi, Selasa (10/7).

Dia mengatakan, kabar bahwa sejumlah puskesmas, rumah sakit (RS) atau klinik kesehatan masih memberikan d4T atau juga dikenal dengan Stavudine pada pasien HIV bisa saja terjadi. Namun dirinya mengaku, masih harus melakukan pengecekan terlebih dahulu.

"Yang jelas kementerian sudah menganjurkan agar Stavudine tidak lagi dipakai," tuturnya.

Perlu diketahui, pengidap HIV perlu secara rutin mengonsumsi obat ARV agar virus yang diidapnya tidak berubah menjadi fase AIDS. Obat ARV disediakan gratis oleh pemerintah. Distribusi obat ARV dilakukan di puskesmas, klinik, dan RS yang telah ditunjuk pemerintah.

Sebelumnya, Indonesia AIDS Coalition menyuarakan agar pemerintah tidak lagi memberikan Stavudine bagi pasien HIV. Aditya Wardhana dari AIDS Coalition mengatakan, obat ARV tersebut terbukti mengandung racun yang membahayakan bagi tubuh.

Lembaga kesehatan dunia, WHO, sejak 2009 juga telah memerintahkan agar Stavudine ditarik dari peredaran. Sejak 2011, memang Kemenkes telah melarang penggunaan ARV tersebut. Namun di lapangan, masih ditemui segelintir pasien HIV yang diberi ARV jenis Stavudine.

Dihubungi terpisah, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM mengatakan, memang sebaiknya ARV jenis d4T digantikan oleh ARV lain yang lebih aman seperti tenofovir (TdF).

Dari beberapa pasien yang menggunakan ARV d4T, lanjut Zubairi, memang ditemui beberapa gejala efek samping seperti penyedotan lemak di satu sisi tubuh, namun menimbulkan penebalan lemak di sisi lainya. Walhasil penampilan tubuh penderita menjadi aneh. (Tlc/OL-9)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6709