Menyikapi Kondomisasi
Tanggal: Thursday, 12 July 2012
Topik: Narkoba


Padang Ekspres, 11 Juli 2012

KONDOM dan rokok? Apa hubungannya? Ke­dua­nya memang sekadar “perkakas”. Namun, bi­la­­mana menyoal maslahat dan mudaratnya, be­rani ta­ruhan, tentu banyak yang menyebut rokok le­bih ”ja­hat”. Sebabnya, rokok dituding bisa me­rusak ke­sehatan dan juga sering dikam­panyekan mampu mem­bunuh manusia.

Tak heran bila ada larangan merokok di ber­ba­g­ai tempat. Sedangkan kondom kerap di­ny­a­ta­kan mampu melindungi organ genital ma­nusia, se­perti, dari kehamilan dan penyebaran pe­nyakit ke­lamin, terutama pencegah HIV/AIDS.

Penisbahan di atas menjadi menarik lagi ketika mas­yarakat tiba-tiba dikagetkan oleh gagasan Men­kes untuk membagi-bagikan kondom. Ada juga program ATM kondom dan promosi kondom ke sekolah-sekolah. Latar belakangnya, penye­ba­ran penyakit kelamin, khususnya HIV/ AIDS dan juga aborsi, melonjak signifikan. Permisivisme dan li­beralisasi seks terpampang makin menanjak he­bat.

Faktanya, kondom sudah bisa diperoleh secara mu­dah seperti di apotek atau minimarket selama ini. Bila begitu, wajar kalau ada pertanyaan me­ngapa harus ada kebijakan membagi-bagikan kon­dom? Apakah semata lantaran kesadaran mas­yarakat untuk memakai kondom masih tipis?

Indonesian Values

Negeri kita ini memang memesona dan unik. Ya, segalanya ada di negeri ini. Dari sumber daya alam yang melimpah hingga berbagai model pe­rilaku dan gaya hidup meruah. Tak berlebihan bila negeri kita ini sering dijuluki sebagai “surga” bagi apa pun. Sebut saja, surga bagi produk impor, sur­ga gaya hidup impor, surga narkoba, surga korupsi, sur­ga kekerasan atau bentrokan, dan ditambah lagi, yaitu surga seks. Reformasi kian mesra ber­de­kapan dengan neoliberalisme. Semua yang dulu ter­gencet atau “mati suri”, kini di era reformasi me­nyeruak dengan tampilan penuh kegagahan dan kejawaraan.

Korupsi makin menjadi-jadi, ter­desentralisasi serta berkom­plot. Deru globalisasi membuat bangsa kita kehilangan karakter dan jati diri. Apa pun model, ga­ya hidup, produk teknologis Ba­rat, disambut dengan penuh ingar bingar dan kemudian me­ras­uk menjadi semacam ’pa­ham baru’ lantaran dipan­dang lebih ber­­gengsi atau “wah”. Sebuah “mi­mesis” (peniruan) di lapa­ngan kebudayaan yang begi­tu meng­hujam di benak masya­ra­kat kita, hingga seolah melum­puh­­kan daya kreasi anak bangsa. La­lu, layakkah negeri kita men­dapat sematan baru, yaitu “ne­gara gagal”?

Kita bisa menengok pula da­lam soal seks, seperti fakta su­bur­nya pelacuran. Mudah se­kali kita jumpai kantong-kan­tong pe­lacuran di berbagai tem­pat de­ngan segala rupa “per­waja­hannya”. Urusan “jual beli” pe­rem­puan dan juga trafficking se­a­kan semudah membeli ro­kok. Di daerah wisata Puncak, umpa­ma­nya, mudah kita jumpai para pria berwajah Timur Tengah yang melakukan kawin kontrak de­ngan perempuan-perempuan se­tempat dan juga transaksi seks. Di Bali juga bisa kita saksi­kan para pria bule dengan mu­dah­­nya menggandeng perem­puan kita. Kalau sudah begitu, apa mujarabnya seribu kali tin­da­kan penggerebekan oleh apa­rat atau ormas keagamaan dila­ku­­kan, ibarat rambut yang dic­u­kur plontos, sebentar lagi akan tum­buh kembali.

Nah, fakta-fakta yang meng­gi­ris­kan di atas sekonyong telah me­micu kepanikan. Seperti hal­nya soal kondomisasi ter­kesan “ikut arus”. Membandingkan di ne­geri Barat sendiri faktanya ti­dak­lah ”polosan” seperti diba­yang­kan. Pendidikan seks di ne­geri-negeri Barat terlebih dahulu di­sosialisasikan.

Sementara di negeri kita ma­sih ramai diperdebatkan. Ban­dingkan pula, semisal kebi­jakan dis­tribusi rokok di negeri-negeri Ba­rat, dijual di tempat-tempat kh­u­sus dan harganya pun dibuat ma­hal. Memang liberalisasi seks di negeri kita mungkin masih ter­bilang lebih “sehat” dibanding di negeri Barat. Walaupun fakta li­beralisasi seks di kalangan anak-anak muda kita juga sema­kin menunjukkan angka yang meng­­geregetkan.

Solusi jelas harus ada. Kepe­du­lian terhadap keadaan negeri ini haruslah terus dipancangkan. Te­­­tapi, solusi yang diupayakan ha­­­ruslah selalu menumpukan pa­­da kearifan kultur bangsa kita. Bang­sa kita kaya dengan adat is­tia­dat dan ajaran agama. Kare­na­nya, se­tiap pengambilan kebi­ja­­kan su­dah seharusnya mem­pertim­bang­kan ”Indonesian values” kita.

Artinya pula, ajaran agama per­lu menjadi tambatan utama da­­lam setiap pengambilan kebi­ja­­k­an. Dalam soal kondo­misasi, per­t­imbangan agama harus di­dengarkan, tidak semata atas na­ma upaya untuk mengurangi ang­ka penularan HIV/AIDS. Aga­ma juga punya metode yang pre­ventif (sad al-dzari”ah) dan mo­derat (bi al-hikmah) guna tu­rut serta dalam mengobati pe­nyakit masyarakat.

Angkat Akar Jamur

Gagasan Menkes soal kon­do­misasi bisa diibaratkan Men­kes ingin mengobati suatu pe­nya­kit, tetapi yang terjadi malah membuka peluang risiko susu­lan sehingga menambah parah pe­nyakit. Terus terang, program kon­domisasi selaksa hanya mam­­pu menghilangkan jamur di permukaan, tetapi akarnya te­tap ada, yaitu budaya seks be­­bas. La­gi pula, kebijakan kon­do­misasi belum bisa menja­min se­bagai cara ampuh untuk mela­wan HIV/AIDS dan aborsi.

Dalam kaidah fikih Islam di­sebutkan “al-dharar la yuzalu bi al-dharar”. Maksudnya, ba­ha­ya atau kemadharatan tidak bisa di­hi­langkan dengan cara ke­ma­dha­r­atan pula. Ambilah con­t­oh ka­sus pencurian motor. Pela­kunya jelas telah bertindak mela­wan hukum. Tetapi, cara penin­da­kannya jangan lantas pela­ku­nya dikeroyok atau malah diba­kar hidup-hidup.

Mengiaskan kondomisasi iba­rat usaha menghapus per­buatan korupsi dengan cara me­nia­dakan lembaga penindak ko­rupsi seperti KPK misalnya. Juga ti­dak bisa dihapus begitu saja de­ngan cara si koruptor me­ngem­ba­likan hasil ko­rup­sinya kepada ne­gara. Per­bua­tan korupsi tetap h­a­rus digan­jar dengan huku­man. Ja­ngan alpa, jurus jitu yang harus dilakukan ada­lah dengan pembenahan sam­pai ke akar-akarnya, yaitu sistem ko­rup dan bu­­daya korupsi melalui pe­ne­gakan hukum.

Demikian halnya dengan ikhtiar mengurangi penyebaran HIV/AIDS dan aborsi. Akarnya adalah budaya permisif. Budaya seperti ini bisa dimaknai pula sebagai hilangnya karakter dan jati diri bangsa, sehingga mudah melakukan peniruan membabi buta, termasuk dalam soal lib­e­ra­lisme seks. Sebaiknya yang per­lu terus dikampanyekan ada­lah mencerdaskan masya­rakat ten­tang bahaya seks bebas sem­bari tak kenal lelah se­nantiasa me­nguatkan dan meningkatkan pen­didikan akhlak anak bangsa, mu­lai institusi keluarga hingga lembaga-lembaga yang peduli dan berwenang. (*)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6710