Buruh Migran Rentan HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 16 July 2012
Topik: HIV/AIDS


Media Indonesia, 15 Juli 2012

JAKARTA: Buruh Migran Indonesia (BMI) berjumlah cukup besar, yaitu 700 ribu orang per tahun. Jumlah orang sebanyak ini butuh perhatian yang lebih besar dari pemerintah mengingat kerentanan mereka terhadap banyak hal.

"Kerentanan itu adalah kehilangan hak kesehatan, diskriminasi, kekerasan, juga kriminalisasi," jelas Taufik Zulbahari, Koordinator Divisi Migrasi, Traficking, dan HIV/AIDS Solidaritas Perempuan.

Data dari Hiptek dan Asosiasi Sarana Kesehatanmenyebutkan, prevalensi HIV calon BMI dengan Negara tujuan Timur Tengah adalah 0,11%. Angka ini lebih besar dari prevalensi HIV di Jakarta.

"Kalau saja calon BMI ini diasosisikan sebagai penduduk di satu provinsi, prevalensinya terbesar kedua setelah Papua," ujarnya.

Data itu sering dijadikan argumen oleh BNP2TKI bahwa itu adalah calon yang berarti terjangkitnya bukan di luar negeri ketika menjadi BMI, tapi di dalam negeri sebelum berstatus BMI.

"Tapi banyak di antara calon BMI tersebut yang sebelumnya pernah menjadi BMI dan sudah pulang ke Indonesia, lalu mereka daftar untuk bernagkatlagi," terangnya.

Kerentanan terhadap HIV ini mulai menjadi kajian Solidaritas Perempuan. Analisis sementara SP, HIV/AIDS dapat ditularkan lewat jarum suntik yang tidak diganti saat tes kesehatan sebelum pemberangkatan ke negara tujuan.

Selain itu, bias juga karena dipaksa berhubungan seks dengan calo PJTKI. Taufik mengatakan ada beberapa pengaduan soal itu yang belum ditelusuri datanya.

Hak kesehatan BMI memang belum terjamin dengan baik. Dimulai dari hasil tes kesehatan yang tidak pernah diberitahukan kepada yang bersangkutan, minimnya edukasi, hingga asuransi kesehatan yang tidak diberikan oleh perusahaan PJTKI.

Padahal dengan minimya akses informasi di daerah asal calon BMI dan tingkat pendidikan yang relatif rendah, edukasi kesehatan, terutama soal HIV/AIDS ini wajib menjadi concern PJTKI.

"Bila dikaitkan dengan isu perempuan, 90% dari seluruh BMI itu adalah perempuan. Bayangkan, semua itu ditambah dengan kerentanan mereka atas pelecehan seksual dan pemaksaan hubungan intim di negeri orang," katanya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Solidaritas Perempuan, perkiraan BMI di luarnegeri saat ini adalah 4.248.462 dengan 2.425.531 yang merpakan BMI di sektor informal.

Remiten yang diterima Indonesia dari BMI ini cukup besar. Menurut data 2009, remiten dari BMI di Malaysia saja mencapai Rp1,5 triliun. Angka-angka ini harusnya menjadi pemacu pemerintah untuk lebih memberi perlindungan yang komprehensif terhdap BMI.

Menurut Taufik, BMI terutama perempuan, memiliki posisi yang sangat rentan dengan kekerasan, pelecehan, diskriminasi, trafficking, dan juga kriminalisasi. Sudah banyak contoh kasus yang diangkat media tentang pelanggaran hak terhadap BMI.

"Tapi pemerintah menurut kami belum serius,"katanya. (OL-11)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6715