Ibu Rumah Tangga Indonesia yang Kena HIV Naik 150 Persen
Tanggal: Thursday, 19 July 2012
Topik: HIV/AIDS


detikHealth, 18 Juli 2012

Jakarta, Selama ini fokus untuk menanggulangi dan mengurangi kasus HIV-AIDS banyak dilakukan pada pekerja seks komersil (PSK) dan pengguna narkoba suntik. Namun di luar dugaan, kasus HIV baru justru meningkat tajam pada ibu rumah tangga.

"Kasus HIV berdasarkan profesi tingkat teratas kenaikannya adalah ibu rumah tangga. Di luar dugaan yang menjadi fokus kita justru menempati tingkat teratas. Untuk Indonesia, kasusnya meningkat 150 persen, Jakarta penyumbang terbesar yaitu naik 55 persen," ujar Dra Rohana Manggala M.Si, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, dalam acara diskusi media dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta, di Kafe Pisa, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Yang memprihatinkan, dengan banyaknya ibu rumah tangga yang mengidap HIV, maka kemungkinan akan semakin banyak bayi yang terlahir dengan HIV, karena kebanyakan ibu rumah tangga tidak sadar bahwa virus tersebut ada di tubuhnya.

Terlebih lagi, HIV tidak hanya menjadi masalah kesehatan tetapi juga masalah sosial. Perempuan, baik yang menjadi pekerja seksual maupun hanya seorang ibu rumah tangga, tidak memiliki nilai tawar saat berhubungan seks, sehingga kasus HIV pada perempuan pun semakin meningkat.

"Kita kaget karena selama ini yang kita selamatkan wanita-wanita yang ada di lokasi kunci, seperti wanita pekerja seks (WPS). Tapi kita lupa dengan ibu rumah tangga. Kenapa bisa naik? Karena suaminya yang membawa. Sayangnya, ibu rumah tangga tidak ada lokasi kuncinya, tidak ada himpunannya sehingga sulit untuk ditangani. Kasus di WPS semakin menurun justru ibu rumah tangga naik," jelas Santi Sardhy, Penggiat HIV dan AIDS Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Data Kementerian Kesehatan tahun 2010 mencatat hampir 3,2 juta laki-laki di Indonesia suka 'jajan' dan lebih dari 50 persen diantaranya adalah pria menikah. Artinya, ini membuat ada sekitar 1,9 juta ibu rumah tangga yang terancam tertular HIV-AIDS.

Kerentanan perempuan terhadap HIV-AIDS lebih banyak disebabkan karena ketimpangan gender yang berdampak pada ketidakmampuan perempuan mengontrol perilaku seksual dari suami, serta kurangnya akses terhadap pelayanan pengobatan HIV-AIDS.

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6732