BOCAH GUNUNGKIDUL PENDERITA HIV: Mak, Kapan Aku Sekolah?
Tanggal: Thursday, 19 July 2012
Topik: HIV/AIDS


Solo Pos, 19 Juli 2012

Masa depan Budi warga Gunungkidul bukan nama sebenarnya, terancam suram. Upaya orangtuanya untuk memberikan pendidikan ditolak sekolah setempat.

Pada 2008, Budi, mengalami sakit panas. Ibunya, Cinta, 27, juga bukan nama sebenarnya, sangat khawatir. Dia lalu membawa Budi ke Rumah Sakit Bethesda, Jogja dari rumahnya di Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Kala itu Budi masih berusia satu tahun 11 bulan. Darahnya diperiksa. Alangkah terkejutnya Cinta ketika mengetahui putranya itu dinyatakan positif mengidap HIV. Darah Cinta juga ikut diperiksa dan dinyatakan positif HIV.

“Saya stres sekali waktu itu,” kata Cinta kepada Harian Jogja di tempat usahanya, Rabu (18/7) siang.

Setelah dinyatakan positif HIV/AIDS, keduanya tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Cinta mengenang, dia kerap mengeluh dan meracau secara terbuka teridap HIV. Diduga kuat, dari racauannya itu para tetangganya jadi dapat informasi sensitif tentang Cinta.

Perlahan-lahan Cinta mulai menerima kondisi itu. Apalagi Cinta berjumpa lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Adapun Budi tumbuh besar seperti anak-anak pada umumnya dan memberikan kebahagiaan untuk Cinta.

Namun, persoalan HIV itu kembali mengusiknya pada Juli 2012 ini. Budi, yang telah didaftarkan dan diterima di TK Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk., diduga kuat ditolak oleh sejumlah orangtua serta wali peserta didik lain yang khawatir anaknya tertular.

“Padahal dia dulu pernah sekolah di PAUD [Pendidikan Anak Usia Dini], tapi enggak ada masalah tuh. Orang-orang juga sudah tahu kalau anak saya kena HIV,” kata Cinta.

Berdasarkan kejadian itu, Cinta menduga ada provokator terhadap penolakan anaknya untuk bersekolah.

Sebenarnya TK tempat Budi hendak bersekolah sebenarnya tidak mempersoalkan. Namun ancaman dari orangtua dan wali peserta didik lain yang akan mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah tersebut menjadi persoalan. Apabila Budi tetap di TK tersebut, sejumlah anak akan dipindah orangtuanya ke sekolah lainnya.

Budi, bocah bergigi ompong itu, padahal sudah ingin sekali bersekolah. Dia kerap menenteng tas sekolah. “Lha, aku sekolah kapan, Mak,” tanya Budi.

Untuk menenangkan hati sang buah hati, Cinta sering berbohong kepada buah hatinya itu. Sang ibu menjawab sekolah sedang libur, padahal proses belajar mengajar sudah dimulai sejak Senin (16/7).

“Lha kok iso prei terus, konco-konco podo mlebu kabeh,” tanya Budi lagi.

Cinta terdiam dan tidak bisa menjawab. Pipinya basah oleh air mata. Dia tidak menyangka, anaknya yang tak tahu menahu tentang HIV itu menemui masalah dalam pendaftaran sekolah.

“Saya cuma bisa nangis kalau dia tanya seperti itu,” katanya.

Budi memiliki hobi menulis, mewarnai dan berhitung. Tapi semua itu dilakukan di rumah, bukan di taman kanak-kanak atau dilakukan bersama anak-anak seumurannya serta dipandu guru.

“Kalau main ya main seperti biasa. Lari-lari, bal-balan atau bulutangkis pakai sandal,” kata Cinta.

Tapi Budi belum bersekolah sekarang. Cinta berusaha menahan sedihnya. Dia hanya berharap anaknya tidak didiskriminasi seperti itu lagi.

Sumber: http://www.solopos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6733