Ratusan Ibu Rumah Tangga Terinfeksi HIV
Tanggal: Thursday, 19 July 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Karya, 19 Juli 2012

JAKARTA: Hasil pendataan yang dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta cukup mengejutkan banyak kalangan.

Bagaimana tidak, dari pendataan yang dilakukan akhir tahun 2011 lalu terungkap, sebanyak 345 ibu rumah tangga diketahui terinfeksi HIV. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jumlah itu meningkat sebanyak 55 persen dari tahun sebelumnya.

Sekretaris KPAP DKI Jakarta, Rohana Manggala mengaku terkejut dengan pendataan yang dilakukan pihaknya tersebut. Para ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV itu biasanya tertular dari suami yang melakukan hubungan seks dengan wanita lain.

"Kami kaget dengan data yang diperoleh, karena jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV cukup tinggi," ujar Rohana seperti dikutip Beritajakarta.com, Rabu (18/7).

Berdasarkan pendataan yang dilakukan terdapat 2.605 penderita HIV/AIDS. Selain ibu rumah tangga, dari data itu juga diketahui sebanyak 680 karyawan menderita HIV/AIDS. Disusul, wiraswasta 297 orang, buruh 139 orang, narapidana 84 orang, mahasiswa dan siswa 59 orang, TNI/Polri 40 orang, PNS 37 orang, dan sopir 29 orang.

Ia menyebutkan, ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS ini perlu perhatian khusus. Terlebih, mereka tidak diperkenankan hamil di luar rencana karena dikhawatirkan janinnya juga akan tertular HIV/AIDS. "Mereka diperbolehkan hamil tetapi harus sesuai rencana. Selain itu, mereka juga harus mendapatkan dukungan psikologis saat hamil," katanya.

Ia juga mengimbau kepada para suami agar menjaga kesetiaan kepada pasangannya, agar kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga jumlahnya bisa diturunkan.

"Untuk kelompok-kelompok pengguna wanita pekerja seksual sulit untuk ditemui. Sehingga untuk pencegahannya juga agak susah, harus ada kesetiaan dari para suami," tandasnya.

Pada bagian lain, Rohana Mangga mengutarakan, KPAP DKI Jakarta membentuk program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS). Nantinya, program tersebut akan dilakukan secara komprehensif bersama sejumlah lembaga terkait yang peduli akan bahaya HIV/AIDS.

Menurut Rohana Manggala, pelaksanaan program tersebut harus mengedepankan pendekatan komprehensif dengan mengintegrasikan emmpat komponen guna mencapai sasaran yang diinginkan.

Keempat komponen itu yakni, melakukan komunikasi perubahan perilaku, penguatan pemangku kepentingan setempat (kepemimpinan, kebijakan lokal, perda, keterlibatan pemilik wisma, dan mucikari), pengelolaan kondom dan pelicin (pemasokan dan distribusi), serta skrining dan layanan infeksi menular seks (IMS).

Selain KPAP DKI Jakarta, dikatakan Rohana, lembaga lain yang tergabung dengan program ini yakni Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Meski begitu, diakui Rohana, berbagai kendala kerap ditemui dalam penerapan program PMTS tersebut. Terlebih, sangat sulit merubah prilaku dan adanya penolakan dari masyarakat. Sehingga pelaksanaannya memang harus dilakukan secara bertahap. Dari lima wilayah kota di Jakarta, saat ini penerapan PMTS baru dilakukan di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat saja. Sedangkan di Jakarta Selatan baru akan diterapkan tahun ini.

Adapun sasaran progam penerapan PMTS ini dilakukan di insdutri hiburan seperti panti pijat, bar, karaoke, spa, hotel dan diskotik. "Program ini bertujuan mengubah perilaku masyarakat agar melakukan hubungan seks dengan sehat, yakni menggunakan kondom. Kami juga membagikan kondom kepada masyarakat secara gratis. Tapi ini juga tidak mudah, karena berbagai alasan justru pemakaian kondom pada pekerja seks tiap tahunnya justru menurun," tandasnya. (Dwi Putro AA)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6735