Patricia Nalls Hidup dengan AIDS
Tanggal: Friday, 27 July 2012
Topik: Narkoba


Liputan6.com, 26 Juli 2012

Washington DC
: Patricia Nalls asal Wahington DC, Amerika Serikat, hidup dengan penyakit mematikan HIV/AIDS. Wanita wanita berusia 26 tahun itu tetap tegar menjalani hidup, bahkan ia menggagas sebuah kelompok untuk membantu para penderita HIV/AIDS.

Berikut ini, cerita yang ditulis dan dikirimkan oleh Nalls ke laman CNN.

Cerita pilu Nalls bermula dari rumah tangganya bersama Lenny. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia tiga buah hati: Tiffany, Shawn, dan Alana. Malang bagi keluarga itu, karena Tiffany divonis menderita HIV/AIDS.

Tiga tahun kehidupan pertama Tiffany dilalui sangat berat. Ia mesti menjalani berbagai macam operasi, menggunakan tabung makanan, tes medis yang menyakitkan, hingga diagnosa yang salah. Lalu Nalls dan Lenny membawa putri bungsunya ke ahli medis di seluruh penjuru negeri.

Mereka semua menanyakan hal yang sama kepada Nalls. Namun, mereka tidak bisa memberikan jawaban atau obat untuk menyembuhkan penyakit Tiffany.

Ketika Tiffany berusia dua tahun, Lenny mulai sakit-sakitan. Dia merasakan lelah sepanjang waktu, mengalami gejala seperti flu, dan mulai kehilangan bobot tubuhnya.

Akhirnya siklus yang pernah dijalani oleh Tiffany pun terjadi pada Lenny. Suaminya pun menjalani diagnosis yang salah, rawat inap, tes, dan pertemuan dengan dokter yang tidak mengerti, apa yang sesungguhnya terjadi pada keluarganya.

Sebelum Lenny dan Tiffany sakit, Nalls menjalani kehidupan dengan motto "American Dream". Lenny berhasil keluar dari lingkup narkoba jenis suntik yang menjeratnya selama lebih dari sepuluh tahun. Kemudian menikah, bekerja keras, menabung, membeli sebuah rumah di pinggiran kota dan membesarkan anak-anak.

Ketika itu, dokter belum tahu atau memahami HIV, cara penularan, atau perbedaan manifestasi HIV pada pria, perempuan, dan anak. Setelah menjalani perawatan, suami Nalls didiagnosa mengidap AIDS.

Lalu ia pun menyaksikan perubahan dramatis dalam kualitas pelayanan kesehatan yang diterimanya, seperti nampan makanan untuk suaminya diletakkan di luar ruang perawatan, hingga para dokter dan perawat yang kurang perhatian. Sepertinya tak ada pilihan pengobatan bagi suaminya saat itu.

Dalam hitungan hari, Tiffany pun didiagnosis dengan penyakit yang sama. Seketika ia pun menerima perawatan yang sama dengan sang ayah dan membuat Nalls miris.

Kemudian Nalls pun juga didiagnosis mengidap HIV. Namun tak ada waktu untuk memikirkan keadaannya, karena suaminya sedang sekarat di salah satu rumah sakit, anak bungsunya terbaring sekarat di rumah sakit lain, dan kedua anaknya di rumah membutuhkan perhatian.

Lenny akhirnya tak dapat bertahan. Ia meninggal beberapa bulan setelah didiagnosa menderita AIDS. Enam bulan kemudian, Tiffany menyusul Lenny, meninggalkan Nalls, serta Shawn dan Alana.

Ketika itu, Nalls berusia 29 tahun. Sepeninggal dua orang yang dicintainya, ia pun fokus mengurus Alana dan Shawn.

Sambil mengurus kedua buah hatinya, bobot tubuh Nalls mulai turun. Setiap kali merasa demam atau diare, ia selalu mengira akan mati. Namun ia sangat khawatir jika dirinya mati, karena kedua anaknya tak ada yang mengurus.

Ia pun tak dapat melihat pertumbuhan kedua buah hatinya. Disisi lain, rasa rindu kepada Lenny dan Tiffany selalu membayanginya. Dan ia selalu berpikir, kenapa dirinya dapat bertahan, namun suami dan putri bungsunya tidak?

Bertahun-tahun Nalls hidup dalam ketakutan dan kecemasan menunggu mati. Selama bertahun-tahun, ia memercayai berita media bahwa perempuan tidak terinfeksi HIV/AIDS. Dan sepertinya, itu adalah Nalls satu-satunya.

Hidup bersama kedua buah hati tanpa suami membuat Nalls kesepian, sehingga ia memutuskan untuk melakukan pergerakan. Nalls pun memasang selebaran di sebuah rumah sakit untuk mencari wanita lain yang mengidap HIV/AIDS, untuk datang ke sebuah kelompok pendukung di rumahnya.

Hasilnya, begitu mengejutkan. Dalam beberapa hari, telepon dirumahnya mulai ramai berdering. Ia mulai sering menerima telepon larut malam dari gadis-gadis dan perempuan muda. Bahkan, beberapa di antara mereka sedang menjalani perawatan di rumah sakit atau di rumah, dan begitu takut mengungkapkan penyakit yang mereka derita.

Dalam beberapa pekan, kelompok pendukung yang digagasnya menjadi begitu besar. Ruang tamu Nalls pun menjadi penuh karena bertambahnya para pendukung, hingga ia memutuskan untuk bertemu dengan para anggota klubnya di ruang bawah tanah gereja.

Ada perempuan profesional, guru, dokter, sekretaris, sopir bus. "Saya mulai pergi dengan para perempuan itu untuk menemui dokter mereka, yang menganjurkan mereka untuk menerima perawatan yang tepat," kata Nalls.

Ternyata kaum wanita membutuhkan lebih banyak perawatan, tanpa harus memberitahu tentang penyakit AIDS yang mereka derita. Dalam klub itu mereka berbagi cerita saat frustrasi, ketika tidak menemukan layanan dan dukungan bagi perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS.

Kaum wanita berbicara tentang dokter yang menolak untuk mengobati mereka atau yang tidak tahu bagaimana memperlakukan pengidap HIV/AIDS. Banyak hal yang didiskusikan dalam klub itu.

Bahkan ketika kehilangan teman-teman, mereka tidak berbicara tentang kematian, melainkan berbicara tentang belajar untuk hidup dengan HIV. Dalam waktu kurang dari dua tahun, kelompok pendukung itu menjadi sebuah organisasi nirlaba yang disebut The Women's Collective.

The Women's Collective menyediakan pendidikan pencegahan AIDS, konseling dan pelayanan pengujian, serta layanan konseling.

"Selama bertahun-tahun, saya telah mampu mengakses pengobatan karena saya memiliki sumber. Tapi sayangnya banyak orang masih tidak memiliki sumber-sumber yang diperlukan untuk mengakses pengobatan dan perawatan. Mereka berjuang dengan masalah tempat tinggal, kelaparan, dan kurangnya lapangan kerja," jelas Nalls.(SHA)

Sumber: http://kesehatan.liputan6.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6767