Obat Kanker Halau Virus AIDS yang Bersembunyi
Tanggal: Friday, 27 July 2012
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 27 Juli 2012

PARA ilmuwan di AS mengatakan Rabu, mereka telah menggunakan obat kanker untuk menghalau virus AIDS yang mengintai tak aktif dalam sel-sel darah putih pasien ujicoba -- suatu langkah sementara menuju suatu pengobatan. Kemampuan genome HIV, atau kode reproduktif, bersembunyi dalam sel-sel dan bangkit lagi setelah beberapa dekade mengancam jadi hambatan besar dalam upaya mendapatkan suatu penyembuhan.

Mampu mengekspos virus itu di tempat persembunyian akan memungkinkan para ilmuwan membidik banyak sel darah putih dalam suatu serangan pembunuhan.

"Ini baru awal pekerjaan menuju suatu penyembuhan AIDS," ujar David Margolis, wakil ketua tim riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, kepada AFP saat Konferensi AIDS Internasional berlangsung di Washington.

HIV merupakan suatu retrovirus, yang memasukkan DNA-nya ke dalam genome sel darah putih yang ditumpangi, sel-sel CD4+T dalam kasus ini, dan kemudian menyulapnya menjadi pabrik-pabrik virus. Kadangkala virus itu bersembunyi di sejumlah sel bahkan pada saat virus lainnya terus berproduksi.

Sekira 34 juta orang di seluruh dunia kini mengidap HIV, yang menghancurkan sistem imun (kekebalan tubuh) dan telah menyebabkan kira-kira 30 juta kematian terkait AIDS sejak penyakit itu pertama kali muncul pada awal 1980-an.

Dalam studi terakhir, para periset di AS menggunakan obat kemoterapi vorinostat untuk menghidupkan kembali dan dengan begitu menyingkap HIV laten itu dalam sel-sel CD4+T delapan pasien ujicoba.

Para pasien tersebut juga menggunakan obat antireviral, yang menghentikan HIV tak berkembang tapi harus digunakan seumur hidup karena obat tersebut tak membunuh virus yang tersembunyi di waduknya.

"Setelah menggunakan satu dosis obat, setidaknya untuk sementara ini, (vorinostat) menghalau virus tersebut keluar dari tempat persembunyian," ujar Margolis tentang hasil-hasil ujicoba tersebut -- obat pertama yang pernah diperlihatkan memiliki kemampuan demikian.

"Ini adalah bukti konsep tersebut, yakni ide bahwa virus itu dapat diserang secara khusus dalam diri pasien dengan obat, dan pada intinya membuka jalan bagi jenis obat-obatan ini diteliti untuk dipergunakan dengan cara ini."

Obat itu membidik suatu enzim yang memungkinkan virus tadi terus bersembunyi.

Peringatkan

Para periset memperingatkan bahwa vorinostat boleh jadi memiliki beberapa efek toksik dan menekankan ini baru merupakan indikasi awal tentang kelayakan yang harus diteliti lebih lanjut.

Margolis mengatakan, apa yang akan terjadi setelah virus itu diungkap di sel-sel waduk juga masih belum diketahui.

Tanpa sel tumpangan, virus itu akan mati dalam beberapa menit saja.

"Ada kemungkinan ini dapat membuahkan hasil. Tapi... jika ini 99 persen benar dan satu persen dari virus itu kabur, maka tidak akan berhasil. Karena itulah kita harus hati-hati dengan pekerjaan kami dan apa yang kami klaim tentang hasil penelitian itu."

Dalam komentar yang dipublikasikan bersama studi tersebut, periset HIV Steven Deeks mengatakan penelitian itu memberikan "bukti pertama bahwa suatu penyembuhan mungkin bisa dicapai pada suatu kelak".

Namun, sama seperti hasil umum pengujian klinis awal, studi tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban -- termasuk keprihatinan etis soal memberikan obat berpotensi jadi toksik kepada orang pengidap HIV yang tanpa virus itu sebenarnya sehat, ujar pakar tadi.

"Data dari laboratorium David Margolis ini sangat menarik bagi mereka yang meneliti jalan lintas untuk mencapai suatu obat penyembuh AIDS," papar periset HIV dari Oxford University, John Frater kepada AFP, seraya menyerukan investasi dalam riset lebih lanjut.

Ahli immunologi HIV Quentin Sattentau menyebut temuan-temuan tersebut menjanjikan, tapi dia menegaskan berbagai jenis sel waduk lain, termasuk di otak, boleh jadi tak merespon pengobatan ini.

"Dengan begitu jalan yang harus ditempuh masih jauh sebelum kita tahu apakah ini dapat berhasil untuk membasmi total HIV dari seseorang yang terinfeksi. (afp/bh)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6768