Suara Anak Sulsel di Hari Anak
Tanggal: Tuesday, 07 August 2012
Topik: Narkoba


FAJAR, 30 Juli 2012

MAKASSAR -- Puncak peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli lalu diperingati secara sederhana oleh 250 anak dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Minggu, 29 Juli di Hotel Celebes kemarin. Kegiatan yang diisi dengan dialog interaktif dengan Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'Mang itu juga dirangkaikan dengan penyerahan suara anak nasional dan suara anak Sulsel yang berisikan tentang permintaan anak Sulsel terhadap pemerintah.

Suara anak Sulsel itu lahir dari hasil Kongres Anak Sulsel yang berlangsung pada 9-14 Juli 2012 belum lama ini. Dalam suara anak Sulsel yang dibacakan salah seorang anak, Al-Ashar berisi 11 poin. Beberapa di antara poin itu berisi tentang keinginan anak Sulsel agar pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap pencegahan terjangkitnya virus HIV/AIDS sebab Sulsel merupakan provinsi yang menempati urutan ke delapan se-Indonesia penderita HIV/AIDS terbanyak.

Selain itu, anak-anak Sulsel juga meminta agar pemerintah meningkat advokasi terhadap kekerasan serta pelecehan seksual anak, termasuk pernikahan dini. Khusus pernikahan dini, di Sulsel sudah terjadi sekita 40 persen pertahunnya. Beberapa poin lainnya, semuanya berisi agar pemerihtah memperhatikan lebih anak-anak di Sulsel.

"Berdasarkan susus penduduk tahun 2010, anak di Sulsel itu mencapai 51 persen dari total penduduk yang ada. 250 anak yang hadir pada hari merupakan anak yang akrab dengan keterbatasan hidup. Setiap hari mereka beraktivitas menjadi pemulung sampah. Sudah saatnya kita bergandengan tangan untuk merangkul dan menjadikan mereka lebih berarti di masa yang akan datang melalui pendidikan," ujar Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Sulsel, Titin Sutarti.

Wana, salah seorang anak pada dialog kemarin mempertanyakan perasaan dan kepekaan Wakil Gubernur, Agus Arifin Nu'mamg melihat masih banyaknya anak Sulsel yang tak bisa sekolah serta ada anak yang sekolah tetapi sambil bekerja.

Menanggapi hal itu, Agus mengatakan, pemerintah itu seperti orang tua. Tentu, Agus mengaku sangat sedih jika melihat masih ada anak yang putus atau tidak sekolah. Makanya, kata Agus sejak empat tahun yang lalu pemerintah menggatiskan pendidikan dan kesehatan. Tujuannya hanya untuk melihat seluruh anak di Sulsel terpenuhi pendidikannya.

"Bahkan saat ini, kami telah menggodok perda yang di dalamnya memuat aturan bahwa orang tua yang memperkerjakan anaknya akan diberi sanksi," imbuh Agus.

Agus juga memberi semangat anak-anak kemarin dengan mengajak mereka untuk tetap bersyukur. Agus mengatakan, 250 anak-anak kemarin lebih beruntung dibandingkan anak orang kaya yang lupuh sehingga tak bisa bersekolah. (iad/pap)

Sumber: http://www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6774