Presiden: Tekan Penularan HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 07 August 2012
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 01 Agustus 2012

JAKARTA — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Kementerian Kesehatan untuk menekan angka penularan HIV/AIDS di Indonesia. Pencegahan penularan HIV/AIDS adalah salah satu agenda prioritas Indonesia.

"Ini soal serius. Kita harus menurunkannya agar tidak meluas," kata Presiden seusai menggelar rapat koordinasi di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (1/8/2012).

Dalam lima tahun terakhir, penularan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkotika suntik turun 10 persen. Namun, penularan HIV melalui hubungan seksual naik signifikan, 30 persen dari sekitar 180.000 orang dengan HIV/AIDS. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan kondom sehingga penularan terus terjadi.

Kepala Negara mengatakan, upaya pencegahan ini tak mesti bergantung pada kerja sama global. Pemerintah akan mengalokasikan anggaran sesuai kemampuan negara untuk program ini. Selain itu, Presiden juga menginstruksikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan jajarannya untuk menyusun rencana menekan penularan HIV/AIDS. Upaya ini juga perlu melibatkan kepala daerah.

"Tentu semuanya harus dihitung secara pasti, termasuk metodologinya," kata Kepala Negara.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kemal Siregar menambahkan, estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia adalah 180.000 orang, yakni 150.000 orang dengan HIV dan 30.000 orang dengan AIDS. Terkait dengan penularan melalui hubungan seks, penularan oleh pelanggan pekerja seks sekitar 3 juta orang. Adapun jumlah pekerja seks sekitar 200.000 orang, lelaki penyuka sesama jenis sekitar 800.000 orang, dan waria sekitar 50.000 orang.

"Masalahnya, sekitar 60 persen dari mereka mempunyai pasangan sehingga berpotensi menularkan HIV/AIDS kepada pasangan," kata Kemal.

Setiap tahun, biaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia lebih kurang 60 juta dollar AS. Sekitar 60 persen adalah bantuan luar negeri. "Tahun 2006, kemampuan pendanaan dalam negeri baru sekitar 26 persen dan sekarang naik menjadi 40 persen. Semua dana dalam negeri habis untuk membeli obat antriretroviral," ujarnya.

Sumber: http://nasional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6780