Indonesia Epidemi HIV/AIDS Yang Terkonsentrasi
Tanggal: Tuesday, 07 August 2012
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 07 Agustus 2012

MEDAN: Indonesia saat ini sudah termasukdalam kategori negara dengan tingkat epidemi HIV/AIDS yang terkonsentrasi (consentrated level epidemic), karena telah didapatkannya kantong-kantong epidemi dengan prevalensi lebih dari 5 persen pada sub popuiasi tertentu. “Sudah ditemukannyaibu-ibu dan bayi yang lahir dengan infeksi HIV, menggambarkan bahwa HIV/AID S sudah mencapai tahap ketiga dari gelombang epidemi,” kata Kadis Kesehatan Sumut dr RR Siti Hartati Surjantini Mkes melalui Plt Kabid PMK Sukarni SKM, Senin (6/8) di sela pelatihan komprehensif bagi petugas kesehatan, kader dan masyarakat di Hotel Antares.

Dijelaskannya, layanan pengobatan, perawatan, dukungan dan kepedulian bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia makin didekatkan ke masyarakat. Pada mulanya , rujukandi rumah sakit untuk terapi ARV, lalu dikembangkan ke tingkat pelayanan sekunder dan primer seperti puskesmas.

“Untuk itu diperlukan pembentukan 5 layanan komprehensif di 5 puskesmas Medan agar sistem efisien efektif serta membangun jejaring yang saling mengisi dan mendukung guna keberhasilan program penanggulangan HIV/AIDS,” ujar Sukarni didampingi Proyek Maneger Global Fund, Andi Ilham Lubis dan Erwan Nofri.

Jadi, tambahnya, agar puskesmas yang ditunjuk mampu mengembangkan kegiatan yang tersebut diatas bagi ODHA secara menyeluruh dan paripurna. Kemenkes dan Dinkes Sumut menyelenggarakan pelatihan HIV/AIDS komprehensif bagi dokter, perawat/bidan, petugas laboratorium, admin, kader puskesmas di wilayah Kota Medan.

“Diharapkan dengan pelatihan ini bisa melaksanakan deteksi dini kasus perawatan, pengobatan dan dukungan serta mekanisme rujukab, sistim monitoring dan evaluasi,” ucap Sukarni.

Menurut Sukarni, beberapa tahun belakangan ini banyak kemajuan yang dicapai dalam program pengendalian HIV di Sumatera Utara.Namun, efektifitas maupun kualitas intervensi dan layanan itu masih belum meratadan belum semuanya sakling terkait. Juga adanya tantangan layanan, cakupan, maupun retensi klien pada layanan termasuk di wilayah dengan beban yang tinggi.

Sementara, sebut Sukarni lagi, sejak diberikannya pelatihan petugas untuk dibagian Klinik VCT pada seluruh kab/kota di Sumut tahun 2010. Hingga kini baru 16 kab/kota yang memiliki klinik Voluntary Conseling dan Testing (VCT) itu.

“Diprediksi semua kab/kota di Sumut ada kasus HIV, kalau petugas sudah dilatih tetapi tidak ada klinik VCTnya, dikhawatirkan penularan virus HIV semakin cepat. Jadi diperlukan perhatian dan peran pemda setempat,” tegas Sukarni.

Dengan adanya klinik VCT, terangnya, maka dengan adanya kunjungan sekitar 100 orang perbulannya dan darisini dilakukan seleksi informasi, test HIV, kalau populasi kunci diharapkan 8 sampai 10 persen ditemukan HIV. “Dengan begitu diharapkan bisa mengurangi penularan,” kata Sukarni mengakhiri. (don)

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6798