Esthi Merasa Tak Pantas Dianugerahi SK Trimurti Award
Tanggal: Wednesday, 08 August 2012
Topik: Narkoba


Gatra, 08 Agustus 2012

Jakarta - Jika Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan bahwa Esthi Susanthi Hudiono layak dianugrahi SK Trimurti Award, tapi tidak demikian dengan Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya itu.

"Saya berangkat ke sini, saya dapat Trimurti, layak nggak sih saya dapatkan penghargaan ini? Karena ada salah seorang (orang dengan HIV/AIDS, Red.) yang kita dampingi itu meninggal dunia," ungkap Esthi Susanthi, usai penganugerahan Soerastri Karma (SK) Trimurti Award 2012, di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa malam, (7/8).

Penghargaan ini diberikan berdasarkan pertimbangan tiga juri, masing-masing Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan Andy Yetriyani; Staf Pengajar Kajian Gender Universitas Indonesia Nur Iman Subono; dan Redaktur Pelaksana Majalah Tempo dan Pendiri AJI, Bina Baktiati.

Esthi mengaku belum maksimal menangani orang dengan HIV/AIDS, sehingga nyawa orang yang didampinginya tidak dapat diselamatkan.

Dituturkannya, kejadian itu bermula dari hasil tes kesehatan seorang istri yang mau berangkat menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), demi memperbaiki perekonomian keluarga dan agar anaknya dapat sekolah setinggi-tingginya.

"Saat diperiksa, dia positif HIV sehingga ingin bunuh diri. Kemudian dia hamil, waktu hamil, kita dampingi. Saat lahir, anaknya negatif. Kita senang banget," tuturnya.

Virus yang diidap sang istri akibat tertular dari suaminya yang positif mengidap HIV/AIDS. Sang suami tidak mau berobat karena takut penyakitnya diketahui keluarganya.

"Saya terngiang-ngiang, akhirnya waktu sang suami itu kritis minta dibawa ke rumah sakit. Kemudian anaknya yang masih berusia 3 tahun, dia ngerti dan nangis terus. Pertama, dia tidak mau bapaknya dibicarakan, suami ini akhirnya meninggal. Kalau ada kebijakan ada ARV gratis, dia akan terus hidup," sesalnya.

Selain merasa belum bisa berbuat masksimal bagi para penderita HIV/AIDS, kesetaraan gender pekerja seks, korban seksualitas dan trafficking, liku-liku perjuangan berat hampir merobohkan tekadnya untuk memperjuangkan hal itu.

"Ingin berhenti saat kantor kami tidak punya uang sama sekali. Dana saya untuk emergency. Saya hidup dari kredit bank HSBC. Saya berdoa, saya sudah tidak mampu tangani," ucapnya mengadu kepada tuhan.

Selain itu, karena sudah tidak mempunyai uang untuk membiayai sejumlah orang dengan HIV/AIDS yang didampinginya, Esthi sempat akan mundur dari pekerjaan mulia itu, jika perda tentang penanganan HIV/AIDS yang digagasnya tidak disetujui pemda Surabaya.

"Saya sempat ingin meninggalkan pekerjaan ini, jika perda yang diusulkan tidak disetujui. Saya sempat datang ke spiritual, saya berdoa, tuhan kalau Perda ini tidak disahkan, saya akan berhenti," janjinya.

Namun, tubuh seorang perempuan yang tergolek di rumah sakit akibat HIV/AIDS itu seolah meminta Esthi menyelamatkan. "Isyarat tubuh itu membuat saya terngiang, sehingga saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini," ungkapnya.

Menurutnya, dari kesusahan itu pasati tuhan menunjukan jalan, meski dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa lagi. "Anehnya ada saja jalannya, asal kita punya tekad. Liku-liku itu semakin menguatkan tekad, saya takkan meninggalkan pekerjaan ini. Ini yang menjadi iman saya semakin kuat," tegas mantan wartawati di Surabaya ini. [IS]

Sumber: http://www.gatra.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6800