Klinik VCT Kapuas Hulu Beroperasi Untuk Mendeteksi Penyebaran Kasus HIV
Tanggal: Thursday, 09 August 2012
Topik: HIV/AIDS


Harian Equator, 09 Agustus 2012

Putussibau – Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) telah mulai beroperasi di Putussibau. Klinik yang operasionalnya didanai Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Kapuas Hulu bertempat di RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau.

Klinik VCT Rossela rencananya juga akan didanai Global Fund. Latar belakang pendirian klinik VCT Rossela dikarenakan semakin meningkatnya kasus-kasus HIV di Indonesia. Pada tahun 2009, kasus AIDS di Indonesia tercatat 186.000 kasus, pada September dilaporkan terjadi peningkatan kasus secara signifikan yaitu menjadi 24.482 kasus di 300 kabupaten kota di 32 provinsi.

Sementara untuk Kabupaten Kapuas Hulu sampai Agustus 2012 kasus HIV/AIDS sebanyak 40 Orang. Di mana 22 orang di antaranya telah meninggal. “Kita harus berupaya menurunkan penyebaran HIV pada populasi masyarakat. Cara paling efisien untuk menurunkan penyebaran HIV adalah mencari populasi target yang berisiko tinggi terinfeksi HIV yaitu pada wanita pekerja seks, pria pekerja seks, waria, lelaki seks lelaki, pemakai narkoba dengan jarum suntik, pasangan risiko tinggi, pelanggan pekerja seks, dan warga binaan pemasyarakatan. Kemudian kita lakukan layanan konseling dan tes HIV,” terang dr H Harisson MKes, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kapuas Hulu.

Layanan konseling dan tes HIV, lanjut Harisson, merupakan pintu gerbang ke semua akses layanan kesehatan yang diperlukan termasuk pencegahan penularan. Begitu diagnosis ditegakkan maka akses terapi dapat dimulai. Layanan konseling dan tes HIV sebagai strategi kesehatan masyarakat merupakan komponen utama dalam program HIV yang bertujuan untuk menggubah perilaku berisiko dan memberikan informasi tentang pencegahan HIV. Pada klinik VCT konseling dan tes diinisiasi oleh klien (pasien, masyarakat) secara sukarela.

Konseling dan tes HIV yang dilakukan oleh klinik VCT Rosela Kapuas Hulu adalah dialog antara klien dan konselor/petugas kesehatan dengan tujuan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan berkaitan dengan tes HIV. Konseling dan tes HIV bertujuan untuk pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku berisiko dan membantu orang dalam mengembangkan keterampilan pribadi yang diperlukan untuk perubahan perilaku dan negosiasi perilaku hidup yang lebih aman. Kemudian menyediakan dukungan psikologis, misalnya dukungan yang berkaitan kesejahteraan emosi, psikologis, sosial, dan spiritual seseorang yang terinfeksi virus HIV atau virus lainnya. Selain itu guna memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui pemecahan masalah kepatuhan berobat.

“Inti dari pendirian klinik VCT adalah untuk memberikan konseling, pemahaman terhadap masyarakat, lalu masyarakat akan termotivasi untuk dilakukan pemeriksaan HIV. Bila masyarakat tersebut ternyata positif menderita HIV maka akan dilakukan pengobatan dan konseling lanjutan agar tidak terjadi penularan HIV terhadap keluarga dan orang lain,” jelas Harisson.

Setiap masyarakat yang memanfaatkan layanan Klinik VCT Rossela akan dijamin kerahasiaannya. Masyarakat tidak perlu takut akan tersebarnya identitas pribadinya, karena klinik tersebut telah dilengkapi dengan SOP bagaimana menjaga kerahasiaan identitas klien.

“Saya mengharapkan agar semua masyarakat terutama kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV dapat memanfaatkan klinik VCT ini. Dan layanan di klinik VCT Rossela Kapuas Hulu dapat diakses secara gratis,” tuturnya. (aRm)

Sumber
: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6805