Penderita HIV/AIDS Jangan Dikucilkan
Tanggal: Thursday, 09 August 2012
Topik: HIV/AIDS


Samarinda Online, 09 Agustus 2012

SAMARINDA. Berdasarkan data terbaru penularan inveksi HIV terbanyak di Indonesia, pertama adalah melalui hubungan seksual dengan seseorang yang telah terinveksi. Kedua, melalui jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung HIV. Dan yang ketiga ditularkan dari ibu pengidap HIV kepada anak, baik selama kehamilan , persalinan atau selama menyusui. Cara penularan lain adalah melalui transfusi darah yang mengandung virus, alat tusuk dan peralatan lainnya seperti jarum tatto dan lainnya yang berpotensi menularkan HIV.

Hingga saat ini HIV/AIDS masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Sejak pertama ditemukan (1987) sampai 2011, kasus HIV/AIDS tersebar di 368 (73,9 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Demikian dijelaskan Kepala Badan Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kaltim, Betty S kemarin usai pembukaan pelatihan tenaga medis untuk penanganan pasien HIV/AIDS.

Menurutnya, presentase komulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,8 persen) kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun, 40-49 tahun (9,4 persen), 15-19 tahun. Sedangkan jumlah kasus tertinggi adalah pada wiraswasta, kemudian diikuti ibu rumah tangga, tenaga non profesional, petani, peternak, buruh kasar, anak sekolah/mahasiswa dan penjaja seks.

"Untuk kasus tertinggi virus ini memang tidak di Kaltim, tetapi tertinggi di DKI Jakarta, diikuti Jawa Timur, Papua, Jawa barat dan Bali. Sedangkan Kaltim walaupun cukup banyak kasusnya, namun belum masuk kategori tertinggi," jelas Betty. Betty mengatakan, untuk penderita kasus HIV AIDS di Kaltim, selalu diberikan support dan treatment agar mereka bisa menjalani penyakit tersebut. Tentu hal ini dilakukan oleh tenaga-tenaga kesehatan seperti perawat, apoteker dan tentu saja dokter.

"Makanya kita melakukan pelatihan-pelatihan kepada tenaga medis, yang namanya Care Support and Treatment (CST). Agar mereka dapat memberikan support kepada penderita. Memberikan pencegahan dan pelayanan komprehensif dan berkesinambungan. Juga konseling," katanya.

Menurutnya, metode yang digunakan dalam pelatihan tenaga medis untuk lebih menekankan pada upaya mendorong peran secara aktif dengan memberikan kesempatan belajar sambil berbuat melalui penerapan prinsip-prinsip andragogi (cara belajar orang dewasa). (rm-4/agi)

Sumber: http://www.sapos.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6806