Kasus HIV/AIDS Bali Peringkat Ke-5
Tanggal: Monday, 27 August 2012
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 25 Agustus 2012

Denpasar - Hingga bulan Juni 2012 sejak tahun 1987, kasus HIV/AIDS yang tercatat di Bali mencapai 6.292 penderita. Jumlah ini mengantarkan Bali menduduki peringkat ke-5 nasional untuk kasus tertinggi setelah DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua dan Jawa Barat. Jika dari segi kasus tertinggi Bali menduduki peringkat lima, maka dari segi case rate atau angka kejadian HIV/AIDS dibagi jumlah penduduk, Bali menduduki peringkat ke-3 setelah Papua dan Jawa Barat. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. Ketut Suarjaya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Semakin banyaknya temuan kasus HIV/AIDS di Bali, tentunya harus diwaspadai semua pihak. Sebab, HIV/AIDS saat ini tidak hanya merambah orang yang memiliki faktor risiko tinggi seperti berperilaku seks bebas dan menggunakan narkoba jarum suntik, namun juga telah merambah ke masyarakat yang justru faktor risikonya kecil terkena HIV/AIDS, seperti ibu rumah tangga dan anak-anak.

Menurut Suarjaya, heteroseksual masih menjadi faktor risiko tertinggi penularan HIV/AIDS yaitu mencapai 4.632 kasus atau sekitar 74,43 persen. Sementara faktor risiko penularan ibu dan anak tercatat 190 kasus selama 25 tahun HIV/AIDS ditemukan di Bali. Faktor risiko lainnya seperti IDU (805), biseksual (15), homoseksual (247), tato (2) dan tidak diketahui sebanyak 350 kasus.

Berdasarkan kelompok umur, usia 20-29 tahun ternyata rentang usia terbanyak telah terinfeksi virus HIV, yaitu 2.569 orang. Menyusul rentang usia 30-39 tahun 2.250 orang. HIV/AIDS juga ditemukan menginfeksi usia muda yaitu di bawah satu tahun 44 orang, rentang 1-4 tahun 166 orang, 5-14 tahun 23 orang dan 15-19 tahun 126 orang.

Untuk bisa menangani kasus HIV/AIDS, baik dalam program pencegahan maupun pengobatan, beberapa langkah telah dilakukan pemerintah. ''Dalam menanggulangi HIV/AIDS, pelaksanaannya dilakukan bersama antara KPA, Dinas Kesehatan dan PKBI,'' ujar Suarjaya.

Tugas KPA adalah koordinasi, advokasi, promosi dan legislasi, seperti pembentukan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN). Sementara tugas Dinas Kesehatan memberikan pelayanan kesehatan bagi penderita. ''Saat ini sudah ada 25 klinik VCT di Bali yang berfungsi sebagai klinik konseling bagi klien yang dapat membangkitkan motivasi pada klien sehingga ada kesadaran untuk melakukan pemeriksaan tes darah HIV secara sukarela,'' jelas Suarjaya.

Di Bali juga ada 6 buah klinik CST (Case Support and Treatment) yang berfungsi memberikan dukungan dan perawatan pengobatan terhadap penderita HIV/AIDS. Untuk PKBI, tugasnya adalah menjangkau dan menemukan kasus HIV serta merujuknya ke layanan kesehatan. PKBI biasanya bekerja sama dengan LSM yang peduli terhadap kasus HIV/AIDS. (kmb24)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6820