216 ABG Terjaring Razia di Surabaya, 1 Orang Terjangkit HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 04 September 2012
Topik: HIV/AIDS


detikSurabaya, 03 September 2012

Surabaya - Selama bulan ramadan 2012 dan dilanjutkan setelah lebaran, Satpol PP bersama Bakesbangpol Linmas, Dinas Sosial serta Polrestabes Surabaya dan Garnisun menggelar razia ABG di bawah umur.

Razia untuk menekan aksi trafficking tersebut berhasil menjaring 216 ABG. Dari jumlah tersebut, 1 diantaranya positif mengidap AIDS. Mereka terjaring di lokasi yang rawan terjadi tindak asusila.

Seperti di cafe, resto, PKL, Pantai Ria Kenjeran hingga kaki Suramadu sisi Surabaya, serta taman yang tersebar di Kota Surabaya dan disalahgunakan sebagai tempat 'pacaran'.

"Kita sangat perhatian terhadap anak dibawah umur. Dari jumlah tersebut, 90 persen itu bukan orang Surabaya," kata Tri Rismaharini kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (3/9/2012).

Walikota Surabaya ini mengaku sangat prihatin dengan warung remang-remang, PKL maupun cafe. Pasalnya, lokasi tersebut menjadi jujugan ABG dan diperjualbelikan minuman keras oplosan yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

"Bukannya kita melarang PKL, tapi di PKL itu banyak ditemukan minuman keras oplosan," ujarnya.

Selain itu, hasil penulusuran petugas, dari 216 ABG yang terjaring razia, 1 orang dinyatakan positif AIDS dan 1 orang lagi terpengaruh narkoba.

"Ada 1 anak (perempuan) dibawah umur, umurnya sekitar 16 tahun sudah terjangkit HIV/AIDS. Itu terjaring di cafe di Darmo Park. Dan dia itu berasal dari luar provinsi. Kan kasihan masih anak-anak sudah terjangkit," tuturnya.

Kota Surabaya selain sebagai kota Pahlawan juga mempunyai predikat Kota Perlindungan Anak. Walikota membantah, jika banyaknya ABG yang terjaring razia dan maraknya kasus trafficking menandakan Surabaya sudah tidak aman lagi bagi anak-anak.

"Jangan keliru. Justru Surabaya ini peduli dan melindungi anak-anak. Mau mencari anak-anak supaya tidak terpengaruh narkoba dan tidak menjadi korban trafficking. Sebenarnya di daerah lain kemungkinan juga banyak anak-anak seperti itu, tapi mereka tidak mau mencarinya," terangnya.

Ia menceritakan, dalam sehari bisa mengunjungi 2 sekolaha setingkat SMP dan SMA, untuk mensosialisasikan bahaya trafficking. Bahkan, tak jarang Risma sering marah-marah kepada siswa siswi tersebut.

"Saya marah-marah di sekolah bukannya karena saya emosi. Saya marah karena ingin memberikan motivasi kepada anaka-anak, jangan sampai masuk ke jaringan trafficking dan menjadi korbannya. Dan pelaku trafficking itu kebanyakan mengincar anak-anak yang masih SMP," jelasnya.

Sumber: http://surabaya.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6846