4 Balita Surabaya Terserang HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 06 September 2012
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 05 September 2012

SURABAYA - Jumlah penderita HIV/AIDS di Surabaya semakin bertambah. Paling memprihatinkan, saat ini ada empat bayi di bawah lima tahun (balita) diketahui menderita penyakit yang mematikan itu. Sedangkan, penderita di usia belia jumlahnya sudah mencapai puluhan. Kondisi ini disampaikan karena jumlah penderita HIV-AIDS di Surabaya terus meningkat. Terhitung sejak 2007-2011 tercatat sebanyak 5.576 kasus HIV-AIDS terjadi di Surabaya. Jumlah itu belum termasuk jumlah penderita pada 2012 ini yang sudah mencapai 127 orang.

Selain itu, jumlah itu merupakan korban yang terdeteksi Dinas Kesehetan (Dinkes) Kota Surabaya, sementara korban yang belum terdata atau belum diketahui karena tidak terdeteksi secara pemeriksaan medis diperkirakan mencapai dua kali lipatnya.

Kepala Dinkes Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie mengatakan, penderita HIV/AIDS di Surabaya seperti fenomena gunung es. Artinya yang terlihat hanya sebagian saja, sementara jumlah yang sebenarnya bisa lebih banyak lagi. “Ini jadi peringatan dini bagi kita semua untuk selalu waspada,” ujar Esty Martian, Rabu (5/9).

Jumlah penderita, katanya, setiap tahun terus bertambah. Lihat saja sejak 2007 jumlah penderita HIV-AIDS ada 214 orang. Jumlah itu meningkat karena pada 2008 mencapai 262 orang. Kemudian apda 2009 jumlahnya mencapai 257 orang. Pada 2010 tercatat 222 orang. Pada 2011 tercatat 175 penderita dan pada Juni 2012 ini sudah tercatat 127 penderita.

Dari semua data itu, katanya, sebagian besar diperoleh dari lokalisasi yang tersebar di Kota Pahlawan. Di antarnya, lokalisasi Dolly, Jarak, Dupak Bangunsasri, Moroseneng dan Sememi. Sementara data untuk penderita dari Pekerja Seks Komersial (PSK) yang biasanya mangkal di hotel, kos, maupun on call belum bisa diperoleh.

Selain itu, katanya, tak semua PSK mau dites. Hal itu karena PSK yang ada di Surabaya. seperti di Dolly, Dupak Bangunsari, Sememi dan Moroseneng yang jumlahnya sekitar 1.200 PSK, hanya 40% saja yang mau memeriksakan kesehatannya. Sisanya mereka memilih untuk lari ketika ada pemeriksaan. “Selai itu, kami juga tak bisa memaksa PSK untuk melakukan tes kesehatannya,” terangnya.

Yang lebih memprihatinkan, dari keseluruhan temuan kasus HIV-AIDS di Surabaya, 62,7 persen di antaranya tergolong usia produktif. Yakni, usianya antara 20-39 tahun. Belum lagi efeknya terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya. “Ini jelas situasi yang mengkhawatirkan, karena dampaknya sangat luas yang mengakibatkan kualitas hidup menurun, produktifitas kerja terganggu, dan lain sebagainya,” kata Esty. Penyebab utama penjangkitan virus paling mematikan ini karena hubungan seks bebas. Sementara penyebab kedua karena terlibat dalam pengunaan narkoba. “Sekarang ini sudah terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu didominasi pengguna narkoba, kini hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIV. pur

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6856