Ditemukan 1 Penderita HIV
Tanggal: Monday, 17 September 2012
Topik: HIV/AIDS


Pontianak Post, 15 September 2012

NANGA PINOH - Satu orang penderita HIV/AIDS dan 8 penderita penyakit sifilis ditemukan Dinas Kesehatan Melawi. Terdeteksinya penderita HIV dan sifilis tersebut terungkap setelah tim Dinkes Melawi melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah WTS yang berada di beberapa area lokalisasi bulan lalu.‘’Ini temuan kita saat bulan Ramadan lalu. Dari 16 orang yang diperiksa, satu orang positif menderita HIV dan 8 orang, teridentifikasi mengidap penyakit Sipilis. Ini juga hasil pemeriksaan laboratorium sampel darah yang diambil,” ungkap Kepala Dinkes Melawi, Simson, saat ditemui di ruangan kerjanya beberapa hari lalu.

Untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran HIV tersebut, Dinkes mengambil langkah mengirim warga yang teridentifikasi HIV tersebut ke VCT di Sintang, sebab Melawi belum memiliki VCT. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran HIV di Melawi “Kita juga selalu monitor kemana dia pergi, setelah dikirim ke VCT. Namun sampai saat ini pihak VCT Sintang belum memberikan informasi dimana keberadaan orang yang terkena HIV tersebut,” jelasnya.

Monitoring dan mengirim penderita HIV ke VCT sangat perlu dilakukan mengingat profesi warga yang mengidap HIV sangat rentan untuk menularkannya kembali ke orang lain atau pelanggannya. Sehingga petugas dari Dinkes akan terus memantau dan bila ditemukan kembali ke lokalisasi tersebut, pihaknya akan mengirimkannya kembali ke VCT.

“Kemarin, ada rencana dia akan pergi ke luar Melawi. Hanya memang kita tetap lakukan pemantauan,” terangnya.Temuan kasus HIV di Melawi, perlunya kewaspadaan mengingat fenomena gunung es yang selama ini terjadi. Menurutnya bila ditemukan satu kasus, setidaknya ada 100 orang yang terindikasi mengidap penyakit yang sama. Apalagi pemeriksaan dilakukan saat puasa, dimana saat itu tidak banyak warga yang berada di lokalisasi.

“Termasuk kasus PMS (Penyakit Menular Seksual) yang kita dapati dari pemeriksaan di beberapa tempat lokalisasi. Prevalensinya sangat tinggi, apalagi mengingat pengidapnya adalah wanita dengan resiko tinggi,” kata dia. Ditambahkannya, masyarakat harus berhati-hati bila ingin melakukan hubungan dengan di tempat-tempat lokalisasi tersebut mengingat masa inkubasi HIV bisa berlangsung hingga lima atau sepuluh tahun. Berbeda dengan PMS seperti penyakit Sipilis yang bisa menular dengan cepat.

“Jadi bisa saja ia berhubungan dengan orang yang mengidap HIV, baru lima tahun kemudian ketahuan ia juga mengidap HIV. Makanya perlu kehati-hatian dari masyarakat, terutama yang masuk dalam resiko tinggi,” ungkapnya. Sementara terhadap 8 orang yang teridentifikasi splis Dinkes sudah mengambil langkah memberikan pengobatan. Pihaknya akan melakukan pengecekan untuk memantau kesembuhan dari warga yang teridentifikasi tersebut.

“Untuk langkah pencegahan, memang kita sudah berencana untuk bekerja sama dengan Kantor Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB agar bisa memberikan kondom gratis kepada WTS,” katanya. Program ini sendiri memang tidak mudah diterapkan di lapangan mengingat berbagai kendala yang akan muncul. Mulai dari anggapan untuk melegalisasi praktek-praktek pelacuran, hingga kesediaan orang yang menggunakan kondom. “Ini merupakan langkah antisipasi yang memang terpaksa harus kita lakukan. Nanti kita bisa berikan kondom gratis kepada WTS yang biasa melayani pelanggan. Paling tidak mengurangi resiko penyebaran HIV dan PMS,” pungkasnya. (ira)

Sumber
: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6879