Karyawan di PPU Rawan Terkena HIV/AIDS
Tanggal: Wednesday, 19 September 2012
Topik: HIV/AIDS


TRIBUNNEWS.COM, 19 September 2012

PENAJAM - Komunitas Peduli HIV/AIDS (KPA) Plus Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memperkirakan, jumlah penderita penyakit ini akan terus bertambah. Untuk saat ini, jumlah warga yang sudah terinfeksi penyakit HIV/AIDS sudah mencapai 17 orang.

Ketua KPA Plus PPU, Jodi menjelaskan, prediksi jumlah penderita bisa mencapai 170 orang. Dimana setiap satu penderita bisa menularkan kepada 10 orang. "Itu secara teori. Tapi bisa saja lebih dari pada itu. Apalagi kalau penderita tidak diawasi, maka akan menularkan kepada orang lain terutama penularan melalui hubungan seksual," jelas Jodi, Rabu (19/9/2012).

Untuk saat ini kata Jodi, kemungkinan jumlah penderita akan bertambah lagi dua orang. Keyakinannya ini setelah melihat dua warga yang masih remaja dengan ciri fisik yang terus mengalami penurunan secara drastis.

Bukan hanya itu, juga karena sering batuk-batuk seperti terkena penyakit TBC. Meskipun belum ada hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan (Dinkes), namun melihat ciri-ciri remaja tersebut yakin bila terkena penyakit HIV/AIDS.

Jodi mengaku sangat khawatir dengan perkembangan penularan penyakit HIV/AIDS di PPU ini yang begitu pesat. Ia menegaskan, wilayah yang rawan penularan penyakit ini di dekat perusahaan. "Karyawan itu paling rawan terkena penyakit HIV/AIDS ini. Kenapa, karena setiap mereka terima gaji khususnya para anak muda kebanyakan menghabiskan waktunya di tempat hiburan. Tapi hiburan yang kebablasan," katanya.

Jodi menyatakan, wilayah yang rawan terkena penyakit ini berada di ITCI, Kelurahan Riko dan Sepaku. Karena di wilayah itu banyak perusahaan yang beroperasi mulai dari tambang sampai perkebunan. Bahkan di wilayah ITCI yang sudah tutup katanya, juga sangat rawan karena sering digunakan para muda-mudi untuk berkumpul terutama di barak-barak eks karyawan. Karena tempat itu biasa digunakan para muda-mudi untuk berkumpul dan bisa melakukan hal yang negatif seperti melakukan hubungan seksual.

Apalagi kata Jodi, penularan HIV/AIDS di daerah ini rata-rata karena hubungan seksual terutama di lokalisasi. Ia mengaku, lokalisasi yang tidak memiliki izin, cukup sulit untuk diawasi. Salah satu tempat lokalisasi yang sering didatangi para pria hidung belang adalah lokalisasi di kilometer 9 Maridan.

"Saya kira tempat itu harus diawasi Satpol PP," ucapnya. Namun untuk mengetahui penderita yang lain, Jodi menjelaskan, dalam waktu dekat Dinkes dan KPA Plus akan melakukan pemeriksaan darah, guna mengetahui penderita HIV/AIDS.

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6893