Ngeri, Penularannya Ada yang Disengaja
Tanggal: Monday, 01 October 2012
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 24 September 2012

SURABAYA - Kini, jumlah pengidap HIV/AIDS di Surabaya terbilang tinggi, dan kasus tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun. Dan ada satu temuan yang cukup menarik dari Pemkot, yaitu ada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) memang sengaja menularkan penyakit mematikan tersebut. Karena itu, Pemkot bakal membuat Peraturan Daerah (Perda) yang memberikan sanksi kepada orang-orang itu.

“Perda tersebut nanti bakal memberi sanksi, misalkan pada orang yang sudah mengidap HIV/AIDS tapi tetap menjajakan seks. Begitu ketahuan masih terjun ke dunia seks bebas, maka dia yang akan disanksi berat,” ujar Esty Martiana Rachmie, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Senin (24/9).

“Ada penderita HIV/AIDS yang demikian itu. Tujuannya karena hanya ingin balas dendam atau tidak ingin menanggung penyakitnya sendirian. Ini yang perlu diberikan sanksi,” tandasnya kembali.

Lebih lanjut Esty mengungkapkan, pihaknya menemukan data baru tentang pengidap HIV/AIDS. Tahun 2007, jumlah penderita penyakit itu 214 orang, kemudian naik di tahun 2008 menjadi 262. Sedangkan di tahun 2009 yakni ditemukan lagi ada 257. Selanjutnya di tahun 2010, 2011 dan 2012, masing-masing 226, 175 dan 127 penderita HIV/AIDS.

Selain itu, Dinkes melansir, sudah ada perubahan cara penularan HIV/AIDS. Jika sebelumnya penyebarannya melalui jarum suntik penggunaan narkoba, kini urutan teratas dikarenakan hubungan seks bebas.

Selanjutnya, Esty menerangkan, dalam Perda itu bakal diatur pencegahan penularannya. Nantinya bagi para pengidap HIV/AIDS akan dimonitor sehingga tidak menularkan penyakit itu ke orang lain. Kemudian, mengatur upaya-upaya pencegahan lain agar orang lain tidak terkena penyakit tersebut.

Tak kalah penting, imbuhnya, dalam Perda nantinya juga akan dimasukkan cara penanganan penderita HIV/AIDS. Intinya Pemkot Surabaya tidak akan melakukan diskriminasi kepada mereka. Yang jelas, penanganan itu bukan dengan melokalisir para penderita itu. “Cara yang demikian itu justru mendriskriminasikan mereka dan itu membuat penderita HIV/AIDS balas dendam tadi,” terang Esty.

89% Dipicu Seks

Sedangkan, Wakil Walikota Surabaya, Bambang DH menambahkan, sebaiknya hubungan seks hanya dilakukan dengan pasangannya agar terhindar dari penyakit ini. Ia menjelaskan data penelitian menyebutkan 89 persen penularan HIV/AIDS di Surabaya di tahun ini terjadi akibat hubungan seks.

Ia menjabarkan 20 persen penderita HIV/AIDS itu adalah pekerja seks komersial (PSK). Selain itu, juga ditemukan pada orang yang berusia produktif yakni antara usia 20 sampai 39 tahun. Jumlah itu mendominasi hingga 62,7 persen. “Bila perang terhadap HIV/AIDS tidak gencar dilaksanakan, hal tersebut akan menjadi persoalan besar yang sulit ditangani,” ungkapnya.

Baktiono, Ketua Komisi D PRD Surabaya yang membidangi kesejahteraan mengatakan, sebaiknya dibuat Perda untuk pencegahannya. Karena, pencegahan lebih penting daripada menyembuhkannya. pur

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6912