Ibu Rumah Tangga Dominasi Idap HIV
Tanggal: Monday, 01 October 2012
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 26 September 2012

PROBOLINGGO - Dari jumlah 324 pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo, ibu rumah tangga masih mendominasi dengan jumlah 69 orang. Yang mengejutkan, sebanyak 10 pegawai negeri sipil (PNS) juga dinyatakan terpapar HIV/AIDS.

“Per Agustus 2012 ini jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 324 pasien, terinci 134 perempuan dan 185 pria,” ujar Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Dyah Kuncarawati, Rabu (26/6) pagi tadi.

Dari sebanyak 324 pengidap HIV/AIDS, kata Dyah, ibu rumah tangga masih mendominasi dengan 69 orang. Disusul 51 buruh kasar, 37 wiraswasta, 36 penjaja seks komersial (PSK), 26 petani/peternak, 13 sopir, 11 karyawan, 10 PNS, 3 seniman, 3 siwa/mahasiswa, 2 TNI/Polri, 1 pelaut.

“Ditambah 16 pasien belum diketahui profesinya. Selain itu ada juga 41 pasien lain dengan profesi bermacam-macam,” ujar Dyah.

Dyah mengaku, prihatin dengan banyaknya ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS. Meski belum bisa memastikan penyebabnya, ia menduga, sebagian besar ibu RT itu tertulari HIV/AIDS dari suaminya. “Saya menduga banyak suami yang ‘jajan’ di luar kemudian menulari istrinya,” ujarnya.

Dengan banyaknya ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS, kata Dyah, berpotensi menulari anaknya baik melalui tali plasenta (pada janin) maupun air susu ibu (ASI). “Karena itu ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS sebaiknya tidak memiliki anak,” ujarnya.

Memang ada solusi bagi ibu rumah tangga agar anaknya tidak terpapar virus yang menggerogoti kekebalan tubuh itu, yakni dengan melahirkan secara caesar. “Selain itu bayi yang dilahirkan disusui orang lain atau diberi susu formula,” ujar Dyah.

Memang ada pula beberapa balita yang diketahui mengidap HIV/AIDS. “Meski jumlahnya relatif kecil, hanya 5 persen tetapi kasihan mereka masih anak-anak sudah terkena HIV/AIDS,” ujarnya.

Disinggung soal 10 PNS yang terpapar HIV/AIDS, Dyah mengatakan, mereka masih aktif bekerja di lingkungan Pemkab Probolinggo. Dikatakan Pemkab Probolinggo tidak punya alasan untuk memberikan sanksi apalagi sampai memecat PNS yang mengidap HIV/AIDS.

“Bahkan sesuai undang-undang identitas mereka yang terkena HIV/AIDS harus dirahasiakan,” ujar Dyah. Rujukannya, UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran yakni di Pasal 47 ayat (2).

Selain itu juga diatur di Permenkes 269 tentang Rekam Medis (pasal 10), PP 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasis Kedokteran, maupun Kode Etik Petugas Kesehatan Pasal 13.

Dyah menambahkan, dari 324 pasien HIV/AIDS, sebanyak 219 orang masih bertahan hidup. “Sementara 115 orang sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Dikatakan sepanjang 2012, Dinkes berhasil mendeteksi sebanyak 72 orang. Sebanyak 58 orang masih hidup, sementara 14 lainnya sudah meninggal. “Jumlah penderita yang meninggal paling banyak pada kurun 2009-2010, masing-masing 23 orang,” ujarnya.

Bertambahnya jumlah pengidap HIV/AIDS juga mengundang keprihatinan dari Badrud Tamam dari Transgender Community Probolinggo (TCP). “Saya prihatin karena jumlah pengidap HIV/AIDS dari tahun ke tahun bukannya menurun tetapi terus meningkat,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6922