HIV/AIDS Sasar IRT
Tanggal: Monday, 01 October 2012
Topik: HIV/AIDS


Jambi Independent, 28 September 2012

JAMBI - Virus mematikan HIV/AIDS sudah menjalar hingga lingkungan keluarga. Ditambah lagi, semakin banyak ibu rumah tangga yang mengidap AIDS. Jumlah anak-anak mengidap AIDS otomatis juga meningkat, mengingat balita menyusu pada ibunya. Kasus kumulatif AIDS pada kelompok usia 0-4 tahun adalah 0,27 persen, setara 20 orang.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan penderita HIV/AIDS cukup besar. Hingga Maret 2012 lalu, pengidap HIV/AIDS mencapai 24.482 kasus dengan angka kematian 4.603 jiwa. Itu baru yang tampak di permukaan. Kondisi riil, bisa jauh lebih besar. Bahkan jika mengacu pada jumlah kalangan berisiko terinfeksi HIV yang mencapai 19 juta orang, saat ini diperkirakan pengidap HIV/AIDS di Indonesia mencapai 93.000 hingga 130.000 orang.

Untuk tingkat provinsi, pengidap di Jambi cukup besar dengan penderita HIV/AIDS hingga Juni 2012, mencapai 675 kasus dengan 341 kasus HIV dan 334 kasus AIDS, meninggal 119 kasus. Ferdia Prakasa, aktivis Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Provinsi Jambi, mengatakan peningkatan AIDS pada ibu rumah tangga disinyalir berasal dari pasangan sendiri.

“Bukan karena mereka pelacur, tapi karena menikah dengan laki-laki yang kena HIV. Suami mereka ternyata pengguna narkoba suntik. Masyarakat harus tahu bahwa angka AIDS saat ini sudah sangat tinggi. Pendidikan agama, seks dan penggunaan kondom harus diprioritaskan,” katanya.

Berdasarkan data Depkes 2009, sebanyak 8,2 juta lelaki membeli seks dan 6,1 juta perempuan menikah dengan lelaki yang terinveksi HIV. Penularan HIV/AIDS kini lebih banyak akibat penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian. Kaum istri mendapat getahnya akibat berhubungan dengan suami mereka yang pecandu narkoba pakai alat suntik.

“Jadi bisa dibayangkan betapa besar kemungkinan virus HIV penyebab AIDS menyebar. Yang paling kasihan adalah perempuan-perempuan yang positif HIV, tapi notabene bukan pelacur atau PSK. Jadi epidemi ini harus dimengerti secara mendalam, jangan hanya memberikan stigma buruk untuk penderita HIV/AIDS,” katanya.

Dia menambahkan, tren peningkatan kasus HIV di kalangan ibu rumah tangga sebenarnya bukan hanya masalah kesehatan tapi juga sosial. “Ibu rumah tangga tidak memiliki posisi tawar dengan pasangan saat berhubungan seks sehingga mereka tidak berani meminta pasangannya memakai kondom. Karenanya laki-laki perlu diingatkan untuk bertanggung jawab dan kembali pada konteks kesetiaan,” katanya.

Ia mengatakan, faktor pencegahan HIV dan AIDS yang utama adalah dengan pendidikan agama. Kedua adalah pendidikan dan pemberdayaan remaja untuk say no to drugs dan free sex. Ketiga adalah penjangkauan di tempat kerja dengan fokus lelaki dan yang terakhir adalah perlindungan perempuan dan remaja putri, serta penggunaan kondom.

“Saya sudah sering dicaci maki dan difitnah menyebarluaskan seks bebas karena menyosialisasikan kondom, tapi kita harus realistis, angka-angka tentang HIV/AIDS sudah semakin tak terbendung,” katanya. Saat ini, kata dia, ada sekitar 60 ribu warga Jambi yang berpotensi tertular HIV/AIDS. Mereka merupakan orang-orang yang bersinggungan secara langsung dengan para PSK, waria, gay, lesbi, dan bisek.

Sumber: http://www.jambi-independent.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6925