10 Pasien AIDS Dirujuk ke Malang
Tanggal: Tuesday, 02 October 2012
Topik: Narkoba


Kasus tinggi, tidak ada RS di Probolinggo yang memiliki fasilitas untuk layani penderita HIV/AIDS

Surabaya Post, 02 Oktober 2012

MALANG – Sepuluh warga Kabupaten Probolinggo yang dinyatakan positif HIV/AIDS menjalani perawatan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Tidak menutup kemungkinan, ratusan warga Kabupaten Probolinggo yang juga mengidap penyakit sama juga dibawa ke Malang.

Manager Penanganan HIV/AIDS, LSM Prolink Community, Kabupaten Probolinggo, Badrut Taman, mengatakan, di Kabupaten Probolinggo tidak ada rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk melayani penderita HIV/AIDS. “Hari ini sepuluh pasien, setelah ini masih banyak lagi yang akan menyusul kami bawa ke RSSA Malang,” kata Badrut, Senin (1/10).

Warga Kabupaten Probolinggo yang mengidap HIV/AIDS sebanyak 240 orang yang didampingi LSM Prolink Community. Namun, yang dibawa untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan rutin saat ini baru sepuluh orang. “Kami bawa bertahap,” sambung Badrut.

Mereka yang dinyatakan positif terkena HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo ini sebagian besar karena penggunaan jarum suntik untuk narkoba. Selain itu juga tertular akibat pergaulan bebas seperti sering berganti pasangan. Penderita penyakit ini juga merata di 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Probolinggo. “Hampir di setiap kecamatan ada yang positif, ini sudah sangat memprihatinkan melihat meratanya penyebaran penyakit ini,” papar Badrut.

Seluruh pasien yang sudah dibawa ke RSSA Malang ini menggunakan Surat Pernyataan Miskin (SPM). Sementara untuk bantuan lainnya, menurut Badrut tidak ada bantuan apapun dari Pemkab Probolinggo. “Pemkab juga belum memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang kesehatan atau pengobatan bagi warganya yang positif dinyatakan mengidap HIV/AIDS,” ucap Badrut.

Seharusnya, sambung dia, ada perhatian dari pemerintah daerah. Meski tidak berupa bantuan dana untuk pengobatan, seharusnya Pemkab Probolinggo memiliki layanan medis yang memadai untuk warganya. Secara terpisah, Sekretaris Komisi Penagggulangan AIDS (KPA), Malang, Nusindrati, mengatakan, di Kota Malang juga terdapat sebanyak 2.134 orang menderita HIV/AIDS. Sekitar 15% persen atau 300 orang di antaranya adalah ibu rumah tangga. “Kondisi ini memprihatinkan, sebelumnya ibu rumah tangga termasuk kalangan berisiko rendah terkena penyakit ini,” kata Nusindrati.

MENINGKAT

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo mencatat pengidap HIV/AIDS di wilayah itu sebanyak 324 orang. Dari jumlah itu, ibu rumah tangga masih mendominasi dengan 69 orang penderita. Cukup mengejutkan, 10 pegawai negeri sipil (PNS) juga dinyatakan terpapar HIV/AIDS.

“Per Agustus 2012 ini jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 324 pasien, terinci 134 perempuan dan 185 pria,” ujar Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Dyah Kuncarawati, Rabu (26/6) pagi tadi.

Dari 324 pengidap HIV/AIDS, kata Dyah, ibu rumah tangga masih mendominasi dengan 69 orang penderita. Disusul 51 buruh kasar, 37 wiraswasta, 36 penjaja seks komersial (PSK), 26 petani/peternak, 13 sopir, 11 karyawan, 10 PNS, 3 seniman, 3 siswa/mahasiswa, 2 TNI/Polri, 1 pelaut.

“Ditambah 16 pasien belum diketahui profesinya. Selain itu ada juga 41 pasien lain dengan profesi bermacam-macam,” ujar Dyah.

Dyah mengaku, prihatin dengan banyaknya ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS. Meski belum bisa memastikan penyebabnya, ia menduga, sebagian besar ibu RT itu tertulari HIV/AIDS dari suaminya. “Saya menduga banyak suami yang ‘jajan’ di luar kemudian menulari istrinya,” ujarnya.

Dengan banyaknya ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS, kata Dyah, berpotensi menulari anaknya baik melalui tali plasenta (pada janin) maupun air susu ibu (ASI). “Karena itu ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS sebaiknya tidak memiliki anak,” ujarnya.

Memang ada solusi bagi ibu rumah tangga agar anaknya tidak terpapar virus yang menggerogoti kekebalan tubuh itu, yakni dengan melahirkan secara caesar. “Selain itu bayi yang dilahirkan disusui orang lain atau diberi susu formula,” ujar Dyah.

Memang ada pula beberapa balita yang diketahui mengidap HIV/AIDS. “Meski jumlahnya relatif kecil, hanya 5 persen tetapi kasihan mereka masih anak-anak sudah terkena HIV/AIDS,” ujarnya.

Disinggung soal 10 PNS yang terpapar HIV/AIDS, Dyah mengatakan, mereka masih aktif bekerja di lingkungan Pemkab Probolinggo. Dikatakan Pemkab Probolinggo tidak punya alasan untuk memberikan sanksi apalagi sampai memecat PNS yang mengidap HIV/AIDS.

“Bahkan sesuai undang-undang identitas mereka yang terkena HIV/AIDS harus dirahasiakan,” ujar Dyah. Rujukannya, UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran yakni di Pasal 47 ayat (2).

Selain itu juga diatur di Permenkes 269 tentang Rekam Medis (pasal 10), PP 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, maupun Kode Etik Petugas Kesehatan Pasal 13.

Dyah menambahkan, dari 324 pasien HIV/AIDS, sebanyak 219 orang masih bertahan hidup. “Sementara 115 orang sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Dikatakan sepanjang 2012, Dinkes berhasil mendeteksi sebanyak 72 orang. Sebanyak 58 orang masih hidup, sementara 14 lainnya sudah meninggal. “Jumlah penderita yang meninggal paling banyak pada kurun 2009-2010, masing-masing 23 orang,” ujarnya. zar, isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6933