HIV Berawal dari Seks Beresiko
Tanggal: Tuesday, 09 October 2012
Topik: HIV/AIDS


Gatranews, 08 Oktober 2012

Jakarta - Di zaman sekarang ini, virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) menyerang berbagai tingkatan usia. Mulai dari usia dewasa hingga bayi yang baru dilahirkan.

Virus berbahaya yang belum ada obatnya itu menular dari ibu si bayi, sejak dari dalam kandungan. Tapi benarkan ibu menjari sumber penularan virus yang menggerogoti kekebalan tubuh ini bagi buah hatinya?

“Tidak!” tegas Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, di Jakarta, belum lama ini. “Saya tidak suka bila dikatakan (penularan HIV) terjadi dari ibu ke bayi,” ujar Menkes, sebagaimana dilansir Antara.

Bagi Nafsiah, sebutan yang lebih tepat adalah bayi tertular HIV, dari orangtua ke bayi. Berdasarkan statistik, sebagian besar kasus penularan HIV ini berawal dari suami ke isteri, lalu kemudian dari ibu ke bayinya.

Pernyataan ini sesuai dengan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI pada Maret 2012. Disebutkan, sebanyak 71 persen pengidap AIDS adalah laki-laki, 28 persen adalah kaum perempuan. Perbandingannya adalah 3:1. Bila laki-laki pembawa virus ini berstatus suami, maka terbuka peluang besar isterinya akan tertular HIV/AIDS.

Sebagai langkah penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, Kementerian Kesehatan (Kemkes) melakukan berbagai langkah pencegahan. Pertama, pencegahan melalui transmisi seksual. Kedua, pencegahan penularan melalui alat suntik. Ketiga, menekan terjadinya kasus ibu menulari bayinya.

Pemerintah, dalam hal ini, Kemkes terus melakukan upaya untuk menanggulangi penyebaran HIV, antara lain, mendorong puasa seks, saling setia pada pasangan, dan penggunaan kondom untuk seks beresiko.

Seks resiko tinggi

Pencegahan HIV/AIDS melalui transmisi seksual ini bukanlah perkara gampang. Sebab, dilihat dari penyebab utamanya, HIV/AIDS justru berkembang karena terjadinya hubungan seks resiko tinggi, bukan lagi akibat penggunaan narkoba suntik.

Pengeritan seks beresiko adalah hubungan seks yang beresiko terjadinya penularan penyakit atau kehamilan yang tidak direncanakan. Yang perlu menjadi perhatian adalah penyebaran berlangsungnya seks resiko tinggi ini terjadi di banyak tempat.

Tidak ada satu pun pelabuhan yang bebas dari jasa prostitusi. Juga di terminal-terminal, maupun obyek-obyek wisata. Transaksi seks ini terjadi secara terbuka maupun terselubung.

“Kita lihat di banyak proyek pembangunan jalan, pertambangan, perkebunan, setelah dilakukan mapping datanya, memang betul terjadi pelacuran,” ujar Menkes. Saat ini, sedang terus dibahas bagaimana cara mengatasi ancaman kerawanan tersebut.

Yang tak kalah memprihatinkan adalah terjadinya peningkatan penularan penyakit akibat hubungan seks yang signifikan di kalangan ibu-ibu di DKI Jakarta. Salah satu cara untuk menghindari penularan tersebut adalah dengan penggunaan kondom.

Namun, langkah ini cukup dilematis. Karena, bila dipahami secara keliru atau terjadi mispersepsi, apalagi jika disalahgunakan, upaya ini justru dapat berdampak negatif, misalnya munculnya seks bebas di kalangan remaja.

Karenanya, untuk meningkatkan pengetahuan komprehensif di kalangan remaja usia 15-24 tahun, Kemenkes telah meluncurkan program kampanye Aku Bangga, Aku Tahu (ABAT).

Kampanye terhadap generasi muda ini sekaligus bertujuan mengajak masyarakat agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang HIV dan AIDS. Dengan begitu, diharapkan kaum remaja dapat menghindar dari perilaku beresiko tertular dan atau menularkan HIV.

Di sisi lain, terkait pencapaian sasaran MDGs (Millennium Development Goals), salah satu indikator keberhasilannya adalah penggunaan kondom pada seks beresiko. “Itu program kami, yakni memproklamirkan penggunaan kondom pada seks beresiko. Kalau yang tidak beresiko, tidak pakai kondom ya tidak apa-apa,” jelas Menkes. (TMA)

Sumber: http://www.gatra.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6947