Pola Bergeser, Potensi Penularan HIV-AIDS di Indonesia Meluas
Tanggal: Wednesday, 24 October 2012
Topik: HIV/AIDS


Berita Satu, 23 Oktober 2012

Penularan HIV-AIDS kini tak hanya pada kelompok berisiko, tapi telah meluas ke masyarakat luas.

Pergeseran pola penularan HIV/AIDS di Indonesia dari kelompok terkonsentrasi menjadi kelompok umum, membuat potensi penularan infeksi ini semakin memprihatinkan.



"Satu hal yang sangat jelas, yang bisa kita lihat di Indonesia, mulai terjadi perubahan pola penularan dari kelompok terkonsentrasi ke kelompok umum," ujar Direktur Eksekutif The Joint United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS), Michel Sidibe, Selasa (23/10), di Jakarta.



Ia mengatakan, sebelumnya penularan HIV-AIDS di Indonesia, seperti juga di beberapa negara lain, terbatas pada kelompok berisiko tinggi saja, seperti pengguna narkoba jarum suntik atau pekerja seks komersial (PSK).

Namun belakangan, terjadi perubahan dengan meluasnya potensi penularan kepada masyarakat yang lebih general, sehingga prevalensi kasus HIV-AIDS di Indonesia pun meningkat.



Saat ini, menurut Michel, kasus HIV yang tercatat dari layanan konseling dan tes HIV hanya mencapai 86.762 kasus. Padahal UNAIDS memperkirakan ada 542.248 orang di Indonesia yang sudah terinfeksi HIV sampai dengan tahun 2012.

Ia menambahkan, rendahnya cakupan perawatan di Indonesia, juga berkontribusi terhadap pola pergeseran penularan HIV.

Menurutnya, pengobatan bagi mereka yang sudah terinfeksi HIV sangatlah penting, untuk mencegah penularan terhadap orang lain.

 "Kalau kita tidak menjangkau mereka, mereka akan sembunyi, dan mereka ini berhubungan dengan orang lain juga, bukan cuma dengan sesama pengidap HIV," katanya.



Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, pergeseran pola penularan HIV di Indonesia terjadi karena agresifnya program penurunan risiko atau harm reduction di kalangan pengguna narkoba terutama narkoba suntik.

Dengan program pengadaan jarum steril dan terapi metadon yang awalnya sangat kontroversial, menurut Nafsiah, penularan HIV di kalangan pengguna narkoba pun turun drastis.



"Sayangnya, perilaku seks berisiko malah meningkat," kata Nafsiah.



Sementara, Michel menambahkan bahwa sekarang tes dan pengobatan HIV/AIDS sudah lebih mudah ketimbang dulu. Menurutnya, dengan teknologi terbaru, tes HIV sudah bisa dilakukan dengan menggunakan sampel air liur dan bukan (saja) darah.

Prosesnya pun lebih cepat.

Selain itu, teknologi terbaru, menurut Michel, juga memungkinkan untuk mengukur kadar CD4 yang mengukur kekebalan tubuh, dengan tes yang lebih sederhana dan lebih murah ketimbang dulu.



Nafsiah menambahkan, dengan keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 76 tahun 2012 yang baru ditandatangani September lalu, Indonesia pada dasarnya sudah selangkah lebih maju dalam pengadaan obat Antiretroviral (ARV).

Perpres yang mengatur pengambilalihan tujuh macam paten ARV dari perusahaan farmasi tersebut menjamin ketersediaan stok ARV di Indonesia, karena ARV sudah bisa diproduksi secara lokal dan tak perlu mengimpor.



"Keuntungannya jelas, dari segi kesinambungan kita tidak perlu khawatir stock out. Harganya pun lebih murah, sehingga menjamin pasien AIDS tetap dapat ARV sesuai kebutuhan," kata Nafsiah.

Sumber: http://www.beritasatu.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7002